- Dakwah, FBE, IMTAQ, IPTEK, Mutiara Pagi

Naturalisasi vs Normalisasi

#fitrahbasededucation #fitrahbasedlife

Naturalisasi vs Normalisasi

Pertanyaan yang sering diajukan oleh para orangtua tentang mendidik fitrah anak adalah bagaimana jika tahapan tahapan perkembangan fitrah anak sudah terlewati dan selama masa itu banyak fitrah yang tak tumbuh baik atau cidera akibat banyaknya intervensi dan obsesi orangtua.

Misalnya fitrah keimanan, tahapan yang natural adalah tahap 0-6 tahun menguatkan mahabbah (kecintaan) dengan imaji imaji positif , tahap 7-10 tahun menumbuhkan kesadaran (tau’iyah) dengan beragam aktifitas relevan, kemudian tahap 11-15 tahun mengokohkan atau menguji kesiapan melalui pembebanan (wazhifah).

Bagaimana jika usia 12 tahun, boro boro diberi beban dakwah, sholat saja masih bolong bolong dan disuruh suruh atau belum antusias beribadah ritual?

Maka jawabannya sederhana, yaitu berarti belum ada kecintaan dan kesadaran, atau ada tahapan yang terlewat. Maka solusi umumnya adalah diulang prosesnya. Menguatkan kembali mahabbahnya dan menumbuhkan kembali kesadarannya. Perlu digali lagi apa pemicunya (trggernya) yang membuat bisa kembali cinta dan sadar, termasuk apa akar penghalang penghalangnya (obstacle). Proses penggalian adalah proses memastikan akar masalahnya termasuk dari dimensi fitrah lainnya.

Ini berlaku untuk semua fitrah manusia, seperti fitrah bakat, fitrah seksualitas, fitrah individualitas dan sosialitas dstnya

Nah proses mengembalikan kepada fitrah ini adalah proses naturalisasi, agar fitrah itu kembali seperti semula dan berkembang sesuai tahapannya. Proses pendampingannya disebut coaching. Kata coaching diambil dari bidang olahraga, untuk membina atlit yang sudah siap untuk ditempa, karena semuanya masih natural hanya saja kurang latihan atau terlewat dilatih atau kurang gizi.

Namun apabila dalam proses mengembalikan fitrah itu ada kendala kendala yang membuat proses mengembalikan fitrah ini tak berjalan baik, sulit merubah mindset, ada dendam masa lalu atau masa kini dll, maka tentu ada fitrah yang cidera parah, maka diperlukan proses Normalisasi dulu, sebelum dilakukan Naturalisasi kembali. Mengembalikan dulu pada posisi normalnya. Ibarat atlit maka bukan sekedar kurang gizi atau kurang latihan, tetapi patah tulang dll maka tak bisa lagi model pendampingan coaching naturalisasi, tetapi normalisasi dengan conseling atau bahkan terapi intensif.

Begitulah fitrah manusia, dan juga begitu pulalah fitrah alam seperti Sungai Ciliwung. Semoga kini anda bisa paham apakah perlu Naturalisasi atau Normalisasi. Semoga juga anda menyadari bahwa kemampuan mendidik anak yang baik sesuai fitrahnya, membuat anda mampu membangun dan merawat fitrah ummat dan juga fitrah alam. Raise Yourchild, Raise Yourself

Salam Peradaban

#fitrahbasedlife #fitrahbasededucation

Sumber:

About dimaspramudia

Read All Posts By dimaspramudia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.