Guru Arsitek Peradaban

Lanscape Peradaban Menurut Al-Qur’an

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Guru Arsitek Peradaban

Sepanjang sejarah, peran Guru adalah peran para Nabi, dan peran para Nabi adalah peran Arsitek Peradaban. Para arsitek peradaban ini senantiasa fokus melanjutkan apa apa yang telah diarsiteki oleh para Nabi sebelumnya, tidak sibuk menjadi terapis kebiadaban pada zamannya.

Itulah mengapa secara simbolis, Baitullah di Mekkah menjadi tanda awal dimulainya arsitektur peradaban manusia pertama kali di masa Nabi Adam AS dan dikokohkan di masa Nabi Ibrahiem AS, dilanjutkan oleh keturunannya, sekaligus sebagai tanda akhir ketika arsitektur itu telah lengkap di masa Nabi terakhir, Muhammad SAW.

Arsitektur Peradaban ini selalu berangkat dari upaya mengembalikan, merawat dan menumbuhkan fitrah manusia, menginteraksikannya dengan fitrah alam di mana manusia ditakdirkan lahir, menginteraksikannya dengan fitrah kehidupan di saat manusia ditakdirkan hidup, lalu memandunya dengan Kitabullah agar fitrah fitrah itu tumbuh indah sempurna dan berbahagia kemudian mengantarkannya kepada Peran Peradaban terbaik dengan semulia mulia adab.

Dalam perspektif Arsitek Peradaban Kenabian ini, para Guru hendaknya juga menjadi arsitek peradaban, yang senantiasa fokus pada kesejatian perannya yaitu mengembalikan, merawat dan menumbuhkan kesejatian fitrah manusia, fitrah alam dan fitrah kehidupan atau fitrah zaman.

Realitanya, sejak revolusi industri, peran Guru mengalami penyempitan makna dan fungsi sehingga menggerus kesejatian perannya. Mereka tak lebih daripada buruh atau pekerja pabrik atau kantoran yang hanya menyelesaikan jobdesc dan menunggu gajian.

Mereka bukan lagi fokus menjadi arsitek peradaban, namun lebih banyak menjadi kuli peradaban, sebagian besarnya menjadi beban peradaban, sebagian sisanya lebih sibuk menjadi tabib kebiadaban yang tak punya kesempatan memainkan peran kesejatiannya sendiri.

Bukan salah guru, sistem modernlah yang menyebabkan peran guru ini mengalami degradasi kesejatian perannya.

Sayangnya sebagian besar guru kemudian hanya mengikuti arus permainan modernisme, ikut cetakan sistem, hanya jalankan peran dan fungsi yang dibuat oleh sistem, yaitu jadi guru buruh dan pekerja yang sekedar menuntaskan bahan ajar lalu menunggu gajian dan naik jabatan.

Bukan salah guru apabila begitu. Sistem lah yang membuat mereka seolah mati gaya, terpasung realita yang menjauhkan mereka dari kesejatian fitrah peran seorang guru.

Kalaupun mereka nampak rajin belajar, pastilah dalam rangka sertifikasi dan menaikkan gaji serta jabatan. Antusiasme meneliti dan melahirkan idea atau karya keren dalam peran mendidiknya nampaknya terlalu utopis di lingkungan yang mengukur segala sesuatunya agar efektif dan efisien.

Bukan salah guru ketika mereka lebih fokus utk menjadi guru yang efektif dan efisien daripada menjadi guru yang dinamis dan dicintai anak didiknya.

Memutus Siklus Kezhaliman

Siklus kezhaliman era modernisme selama beberapa ratus tahun ini harus diputus. Para guru muda, harus bergerak kembali kepada kesejatiaannya, harus shifting dari guru sebagai pekerja dan buruh menuju guru sebagai pribadi independen yang mampu menjadi arsitek peradaban.

Ada harapan baru dari para Guru Millennial, guru muda kelahiran 80an dan 90an. Ada kerinduan dalam diri mereka untuk kembali kepada kesejatian peran guru, untuk kembali bermartabat dan berderajat sebagaimana seorang arsitek peradaban.

Mengarsiteki peradaban tentu bukan perkejaan seseorang, tetapi kerja kolektif dalam gerakan kesadaran yang sama untuk kembali kepada kesejatian fitrahnya. Guru adalah kunci perubahan peradaban untuk kembali menuju kepada peradaban yang Allah kehendaki, yaitu lahirnya peran peran peradaban terbaik sesuai fitrahnya yang membuat peradaban menjadi jauh lebih damai dan lebih hijau.

Jadilah Guru Arsitek Peradaban yang membuat model baru yang melaniutkan kesejatian model sebelumnya yamg selaras dengan fitrah manusia, bukan sibuk menjadi kuli atau sibuk membenahi model lama yang tak sesuai fitrah.

Jadilah Arsitek Peradaban, sebagaimana para Nabi sepanjang sejarah melahirkan peran peran peradaban terbaik dan semulia adab. Sambutlah panggilan untuk menjadi arsitek peradaban, panggilan untuk menjadi guru sejati.

Selamat Hari Guru.

fitrahbasedlife fitrahbaseeducation pendidikanberbasisfitrah

Reff:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.