- Dakwah, IPTEK, Life Style

TEKNIS MENGENALI BAKAT ATAU MENDIDIK ANAK SECARA FITRAH

Secara teknis untuk dapat mengenali bakat anak atau mendidik anak secara fitrah yang tumbuh, bisa dibagi dari beberapa fase tahapan usia:

  1. Fase 0 – 6 tahun:
    Mengapa 0 – 6 tahun, karena pada umur 7 tahun ada perintah sholat, jadi mulai dari 7 tahun kita anggap berbeda face, dan fase ini adalah fase penguatan konsepsi, ini bukan face bagaimana anak menjadi pintar, tapi fase dimana anak diharapkan bisa tumbuh perasanya, jadi pusatnya adalah perasaan, bukan kepintaran, maka buatlah ia terpesona dengan Allah SWT, buat ia terpesona dengan islam, buat ia terpesona dengan Rasulullah SAW, buat ia terpesona dengan bakatnya, buat ia terpesona dengan orang tuanya, buat ia terpesona pokoknya dengan kebaikan kebaikan, itulah mengapa Allah SWT perintahkan sholat diusia 7 tahun ya, bukan sejak dini, karena umur 0 – 6 tahun adalah masa untuk dibuat terpesona, masa untuk menguatkan konsep. Dari sisi fitrah bakat, kenali anak dengan sifat uniknya, sampai dia menemukan/paham, misal sampaikan “nak, kamu ini sifatnya suka ngomong, bunda seneng kok kamu suka ngomong”, jangan sampaikan ” kamu ini bawel, cerewet, bunda sebel tahu”, buat anak dihargai dengan sifat uniknya. Kalau Anak kita versi satu satunya sepanjang sejarah, kita adalah versi orang tua terbaik menurut Allah bagi anak kita, jadi Allah tidak salah menitipkan anak kepada kita, Allah tidak akan memanggil mereka yang mampu, tapi Allah akan memampukan mereka yang terpanggil, jadi jangan khawatir Ayah Bunda begitu kita sambut panggilan kita sebagai orang tua sejati, maka Allah akan berikan hikmah yang banyak, syukuri saja apa yang Allah berikan, sebagaimana Allah menggambarkan dalam Al-Qur’an bagaimana keluarga Luqman. Dari sisi fitrah seksualitas, 0-6 tahun kuatkan konsepsi gendernya, dengan mendekatkan anak laki dan perempuan kepada ayah dan ibuya, jadi ia bangga jadi laki2 jika anak laki2, bangga jadi perempuan jika anak perempuan. Terkadang kita tergesa gesa pada masa tersebut anak kita ingin segera berbuah, ingin anak sudah menjadi pintar atau sholeh/a yang kemudian kita pacu, kebayang kan ada pohon baru tumbuh beberapa helai daun, kita siram air banyak banyak, kita pupuk banyak banyak, apa yang terjadi?, kemungkinan tewas, mati, membusuk akarnya, cuma kalau pohon kan kelihatan membusuknya, cuma kalau anak kan tidak terlihat, nanti akan terlihat ketika pada fase berikutnya, gejalanya biasanya mulai ada sifat tidak bersemangat, lemas, malas sekolah, dll. Anak anak 0 – 6 tahun sebaiknya lebih banyak belajar di alam, bukan di gedung, maka sering kita sebut taman kanak kanak, bukan gedung kanak kanak?, kita bisa membaca dan memahami masa masa Nabi SAW saat berusia 0 – 6 tahun di bani sa’diah, Nabi belajarnya di alam, memelihara kambing, naik ke atas atas bukit, lingkungan yang hanif, bahasa ibu yang kuat, karena sesungguhnya kehidupaan Nabi SAW bisa menjadi teladan walaupun belum menjadi Nabi sekalipun atau syariah yang belum ada saat itu.

  2. Fase 7 – 10 tahun:
    Mengapa 7 – 10 tahun, karena pada 1O tahun ada perintah boleh dipukul dan kamar dipisah, sehingga menjadi fase tersendiri. Pada fase ini, setelah konsep pada fase 0 – 6 melekat, maka anak mulai digali potensinya, seperti dari konsep cinta Allah pada fase sebelumnya menjadi taat kepada Allah, buat anak taat kepada Allah itu bukan dibawah 7 tahun, tapi diatas 7 tahun, jadi kalau kita memaksa anak taat dibawah 7 tahun ada timbul rasa kecewa dikeduanya (orang tua dan anak), terbayang tidak menyuruh anak untuk tertib sholat dibawah umur 7 tahun?, ketika anak masa aktifnya bermain tiba2 kita paksa, itulah mengapa Allah memerintahkan kita untuk menyuruh anak tertib sholat ketika diatas umur 7 tahun, maka dari itu bangun dahulu konsepsi dan kecintaannya pada fase sebelumnya, fase ini lah kita mendidik anak untuk membangun atau menguatkan potensi ketaatannya, karena secara logika yang kita bayangkan pada diri kita, kita bisa taat jika kita cinta?, sepakat ya.. maka bagun dulu cintanya, seperti ada istilah cinta sebelum Al-Qur’an, cinta sebelum ilmu, seperti itu kan?..jadi jangan langsung syariah dahulu, tapi aqidah dahulu, karena inti aqidah adalah kecintaan, itu fitrah iman, kalau fitrah bakat apa?, kalau 7 – 10 tahun beri aktivitas yang relevan dengan sifat uniknya, jadi menyambung dari fase sebelumnya, misalnya si anak mempunyai sifat memimpin, coba ketika liburan jadikan si anak pimpro liburan yang mengatur keperluan, hitung budget dan waktunya misalnya, jangan sekali sekali jika anak mempunyai sifat memimpin kita suruh bawa tiker dan rantang, bisa sakit hati dia hehe.. Dari sisi fitrah seksualitas, penyadaran potensi, dari konsep ke laki lakian menjadi potensi laki laki bila anak laki laki, dari mana caranya penguatan tersebut?, dari Ayahnya langsung, sering seringlah ajak anak menjadi bagian dari aktivitas Ayah, misalnya ajak taklim, ajak naik gunung, ajak olahraga yang gagah, sampai anak laki2 tersebut mengatakan “nanti aku sudah besar mau kaya Ayah”, begitupun dengan anak perempuan, dari ibunya langsung. Tapi lebih ditekankan untuk ayah, yang harus banyak belajar, karena jika dikaji dalam Al-Qur’an kisah  yang terkandung kebanyakan menceritakan tentang seorang Ayah, yang sebaiknya seorang ayah itu perlu sakti lisannya, sebab ayah lebih banyak pengaruh, maka teruslah belajar Ayah bunda.. karena kelak anak kita akan menghuni sebuah jaman yang kita tidak pernah bisa membayangkan pada hari itu seperti apa tempaan ujian yang anak kita hadapi, dan kita tidak pernah bisa mengunjunginya pada jaman itu, apa yang anak kita butuhkan?, pertama, akidah yang kuat, yang kedua, fitrah yang tumbuh dengan hebat, yang ketiga apa?, kenangan kenangan indah bersama kita, itu akan menguatkan pijakannya, menguatkan harapannya, membentuk/mengkonstruksi kepribadiannya, maka jangan buang buang waktu ayah bunda, manfaatkanlah waktu indah bersama anak dengan sebaik baiknya, kelak kita akan sadar ayah bunda, banyak karunia yang Allah berikan pada anak kita dan kita ayah bunda menjadi baik dengan mendidiknya.

  3. Fase 11 – 14 tahun:
    Mengapa 11 – 14 tahun, karena pada 15 tahun dalam islam para Ulama sepakat menjadi satu alasan yang sah bahwa umur tersebut  sudah dianggap AKHIL BALIGH,  jadi pada fase ini adalah masa masa dimana kita perlu mempersiapkan untuk anak menjelang akhil baligh. Disinilah fase pengujian eksistensi, jadi kalau mau tega sama anak, mulai 11 tahun ke atas, misalkan dirantaukan, pesantrenkan, belajar diluar negeri, dikasih bisnis atau menjadi partner bisnis kita, seperti halnya Rasulullah SAW ketika itu umur mulai 12 tahun diajak/dimagangkan pamannya berdagang ke Syam dan Rasulullah sepanjang hidupnya sampai menikah dengan Khodijah sudah menjadi 86 kali ekspedisi dagang keluar negeri dan mas kawin rasulullah ketika menikahi ibunda Khodijah berupa apa?, 50 unta merah, bisa dibayang jika di rupiahkan, satu unta merah saat ini bisa kurang lebih 1 Milyar, jadi maharnya Rasulullah SAW ke Khodijah kurang lebih 50 Milyar, karena sejak 16 tahun sudah memiliki bisnis sendiri, mari kita didik anak laki laki kita, agar dapat memuliakan calon istrinya dengan mahar yang bagus. Maka dari itu sangat penting hadirnya Ayah bunda dalam mendidik anak kita. Pada fase ini untuk hal yang tega tega, serahkan pada Ayahnya, jangan pada ibunya yang terkadang lebih tidak tega, karena Ayah adalah sang tega dan Ibu adalah sang pembasuh luka, pembagian peranannya seperti itu Ayah bunda. Didiklah anak kita agar mandiri ketika akhil baligh, karena bila kita sibuk pada fase fase tersebut dan sebelumnya maka kita akan menuai senyuman ketika anak diatas umur 15 tahun Ayah bunda, tapi jika kita lalai pada fase fase tersebut, maka kita akan berkemungkinan menuai badai ketika anak diatas umur 15 tahun, semua harta yang kita kumpulkan pada hari ini dengan melalaikan mendidik mereka akan kita habiskan nanti, mungkin sekarang tidak terbayangkan ya, bisa jadi mungkin nanti akan habis, mohon maaf ya, karena LGBT, Narkoba, Depresi, itu semua berbenahnya luar biasa, gak main main Ayah bunda, benar benar menguras tenaga dan biaya.

Singkatnya:
Jadi seperti itu ya Ayah bunda, 0 – 6 tahun penguatan konsepsi (RAJA), 7 – 10 tahun penyadaran dan penguatan potensi, 11 – 14 tahun pengujian eksistensi (BUDAK) , nanti diharapkan akhil baligh sudah bisa mandiri maka disuruh jadi teman (PARTNER) kalau kata Ali.

Demikian Ayah bunda, semoga bermanfaat.

 

Sumber:
#FitrahBaseEducation
Mubaligh: Harry Santosa.

About dimaspramudia

Read All Posts By dimaspramudia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.