Renungan Pendidikan #23 – Mari kita kembalikan peradaban dunia kepada kesejatiannya

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

“Buat apa kita ajarkan anak kita syariah, jika tidak kita siapkan generasi aqilbaligh, yaitu generasi yang mampu memikul semua tanggungjawab syariah dan mampu menjalani peran dan misi penciptaan manusia di muka bumi, tepat dimulai ketika mencapai aqilbaligh”.

Sebuah nasehat yang provokatif, yang membangunkan jiwa jiwa kita yang tertidur dan terperangkap rutinitas serta tujuan tujuan hidup pragmatis yang membutakan tujuan dan misi sesungguhnya dari penciptaan kita.

Padahal tujuan dan misi penciptaan adalah hal pokok yang wajib ditemukan dan yang menjawab mengapa kita harus ada di muka bumi.

Sesungguhnya inti pernikahan adalah melahirkan dan mendidik generasi peradaban. Dan inti mendidik adalah agar generasi mendatang, yaitu anak anak kita, kelak mampu menjalankan peran peradabannya yang merupakan misi penciptaan (ultimate purpose) manusia di muka bumi. Syariah adalah pedoman yang melingkupinya.

Begitu pentingnya hal ini maka pernikahan disebut sebagai setengah agama. Jadi ” Separuh Agama” kita adalah melahirkan dan mendidik generasi peradaban. Jika demikian maka pada galibnya tiada pernikahan dan tiada agama tanpa pendidikan di dalam rumah dan di dalam jamaah/ komunitas.

Namun sayangnya kita menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak anak kita pada persekolahan modern secara ikhlash dan taat. Kita tidak mau mengembalikan peran sejati kita sebagai ayahbunda, kita tidak mau belajar bagaimana merancang dan menjalankan pendidikan berbasis fitrah untuk anak anak kita sendiri.

Hari ini kita saksikan, persekolahan modern, walau berlabel Islam, gagal menyiapkan generasi yang mampu menjalankan peran dan misi penciptaannya di muka bumi. Persekolahan modern melahirkan orang2 pintar terpelajar namun tidak tercerahkan dan tidak memahami apalagi menjalankan misi penciptaannya di muka bumi.

Misi penciptaan itu meliputi, misi sebagai imaroh (perawat bumi) agar bumi semakin hijau dan lestari, misi sebagai imama (pemimpin manusia) agar manusia semakin bijak bestari dan damai harmoni, misi sebagai abid (hamba yang taat) agar semakin tunduk dan rendah hati, dan misi sebagai khalifah fil ardh yang menjalani semua misi penciptaan dan peran peradaban.

Krisis terbesar abad 21 bukan hanya krisis alam seperti global warming, perubahan iklim yang ekstrim saja, namun juga krisis kemanusiaan. Banyak manusia modern yang hebat teknologi namun tidak kenal Tuhan dan tidak kenal dirinya. Tidak tercerahkan dan tidak bahagia serta tidak produktif.

Kedua krisis ini, alam dan manusia tentu saja menjadi isu yang paling utama karena indikator keberlangsungan bumi ada pada seberapa baik kondisi alam dan ada pada seberapa baik kondisi manusia.

Namun jauh sebelum krisis alam, manusia telah mengalami krisis lebih dahulu. Manusia telah dicerabut dari akar fitrahnya, dari kodrat penciptaannya, lalu dicetak dan dikemas menjadi kuli kuli industrialisme dalam perbudakan modern.

Semua krisis ini dimulai ketika modernisme dimulai. Modernisme telah melakukan kampanye bahwa modernisasi adalah puncak keunggulan yang harus diseragamkan di seluruh muka bumi, di seluruh bangsa bangsa, di setiap keluarga dan manusia.

Pada kenyataannya modernisme telah melakukan rekayasa yang berakibat penyimpangan fitrah manusia dan fitrah alam. Jargon yang mereka hembuskan senyatanya adalah ambisi mengendalikan dan menternakkan manusia. Modernisme telah melakukan penjajahan peradaban di seantero dunia.

Dunia modern, malu mengakui bahwa manusia modern gagal melahirkan kehidupan yang lebih baik. Persekolahan modern sebagai pilar modernisasi, malu mengatakan bahwa merekalah akar penyebab semua krisis ini. Modernisme telah menciptakan kemunafikan dalam semua tatanan kehidupan manusia.

Persekolahan modern dirancang sebagai alat rekayasa sosial dari modernisme, dengan maksud untuk membuat manusia lebih modern karena modern adalah kehebatan universal. Setelah dijalani 200 tahun, ternyata modernisme malah menyengsarakan manusia dan alam.

Dalam pandangan modernisme bahwa manusia, alam dan bangsa bangsa akan bahagia bila dicerabut dan diseragamkan kehidupannya sesuai modernsime. Intinya, kalau mau hebat maka ikuti standar modernisme. Begitulah persekolahan modern ditanamkan dan dijalankan.

Padahal modernisme tak lebih daripada sebuah alat yang hanya memporak porandakan fitrah penciptaan personal dan komunal manusia, merusak fitrah alam, bumi dan seisinya, menyimpangkan fitrah bangsa bangsa di dunia serta memberangus sistem hidupnya sekligus.

Penggagas dan penjaja persekokahan modern sudah lebih dahulu menderita dan hampir masuk jurang. Lalu kita pun apakah mau menuju jurang yang sama?

Modernisme melahirkan generasi yang melek literasi dan mampu membaca semua hal kecuali gagal membaca jatidirinya, gagal membaca Tuhannya, gagal membaca lokalitas budayanya, gagal membaca misi penciptaanya di muka bumi.

Sesungguhnya Allah swt telah menciptakan setiap makhluk di muka bumi dengan misi penciptaannya masing masing yang spesifik dan unik. Tidak diperkenankan mengubahnya sedikitpun, dan setiap intervensi perubahan akan merusak misi penciptaan itu. Yang diperkenankan hanya membangkitkan dan menumbuhkan fitrah2 yang telah Allah karuniakan.

Tatanan dunia baru bernama modernisme beserta persekolahan modern telah gagal menciptakan dunia yang lebih damai dan harmoni, alam yang semakin hijau lesatari, manusia yang semakin bijak bestari.

Mereka, para modernist, telah gagal merekayasa sebuah kehidupan yang lebih sejahtera dan lebih maju yang mereka sebut modern, itu semua lantaran mereka mencerabut manusia dari akar dirinya, akar alamnya, akar masyarakatnya, akar budaya dan akar agamanya.

Mari kita kembalikan peradaban dunia kepada kesejatiannya, dimulai dari rumah rumah dan komunitas komunitas kita, dimulai dari pendidikan berbasis fitrah anak anak kita. Agar anak anak kita tidak lagi tercerabut fitrah fitrahnya dan mampu menjalani peran dan misi penciptaannya di muka bumi.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Sumber : https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa/posts/10205853850055546

Leave a Reply