Circle of Concern vs Circle of Control

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Circle of Concern vs Circle of Control

Mengapa banyak orang di sosial media yang lebih suka peduli mengomentari sesuatu yang sebenarnya diluar kendali bahkan tidak relevan sedikitpun secara langsung dengan dirinya? Mereka berkomentar layaknya seorang pakar atau seorang yang punya otoritas untuk merubahnya.

Lucunya mereka kemudian menghabiskan umurnya untuk pusing memikirkan bahkan sampai marah marah, uring uringan, memaki, mengumpat dan mungkin sampai jatuh sakit untuk sesuatu yang sesungguhnya mereka tak mampu mengendalikannya apalagi merubahnya.

Lihatlah misalnya kasus pilkada, pilpres sampai kepada kesebelasan sepakbola dan kenaikan cabe merah dstnya, berapa banyak manusia menghabiskan waktunya, perasaannya, uangnya untuk sesuatu yang bukan kendalinya.

Anehnya walau mereka sangat peduli pada masalah yang diluar kendali mereka, namun pada masalah yang seharusnya menjadi kendali mereka malah tidak peduli, misalnya masalah mendidik anak sendiri, mendengarkan keluhan istri, membangun misi keluarga dstnya.

Lingkaran kepedulian (circle of concern) orang orang seperti ini berada di luar lingkar kendalinya (circle of control), sementara sesuatu yang harusnya berada dalam lingkar kendali mereka, mereka tidak sungguh sungguh menjadikannya masuk dalam lingkar pedulinya.

Bayangkan, jika banyak orang yang begitu maka akan banyak masalah yang tak akan selesai dan potensi yang tak dihebatkan. Sementara yang bisa dikendalikan diabaikan, dan yang tidak bisa dikendalikan dipedulikan. Rusak binasalah amanah dan dunia.

Apa Penyebabnya?

Banyak manusia yang tidak pernah tahu alasan keberadaannya di dunia. Mungkin ia tahu alasan Tuhan menghadirkannya di dunia yaitu untuk beribadah, namun buat apa jika tidak kenal tugasnya di dunia yang merupakan alasan kehadirannya di muka bumi.

Ibarat karyawan yang tak punya tugas atau tak tahu tugasnya apa, cuma tahu bahwa maksud majikannya menempatkannya di perusahaan agar bekerja sungguh sungguh, maka ia akan bekerja serabutan yang penting kerja. Kepeduliannya atau perhatiannya akan berpindah pindah pada area yang sebenarnya bukan tugas sesungguhnya.

Lingkar kepeduliannya akan berpindah pindah namun berada di luar kemampuannya atau kendalinya. Walhasil kinerjanya pasti sangat rendah sementara yang seharusnya menjadi tugasnya krn mampu mengendalikannya malah diabaikannya. Hidupnya gelisah, banyak waktu terbuang dan energi yang menyimpang.

Lalu karyawan yang demikian dapatkah kita golongkan sebagai orang yang telah bekerja padahal tak pernah tahu tugasnya? Begitulah manusia di muka bumi. Manusia yang tidak tahu tugas spesifiknya di muka bumi, maka akan sulit digolongkan sebagai Hamba Allah, hidupnya tak tenang, sibuk pada hal hal di luar kendalinya dan agama baginya hanyalah siraman rohani di kala stress bukan panduan menjalankan tugas atau peran di dunia.

Maka pastikanlah, lingkar peduli kita selalu berada di dalam lingkar kendali kita agar hidup kita selaras dengn peran kita sehingga banyak menebar manfaat dan rahmat. Makin terasah banyak menebar rahmat maka makin lebarlah lingkar kendali kita. Jika lingkar kendali kita semakin melebar, maka jangan kawatir akan semakin banyak masalah ummat yang kita selesaikan.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Reff:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.