Imanan wa Ihtisaban #7

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Seorang mantan perdana menteri berusia 92 tahun, tetiba kembali lagi memenangkan pemilu dan menjadi perdana menteri kembali. Khalayak terhenyak, terlepas dari obsesi politik, tetapi betapa orang yang dengan umur tidak muda lagi masih punya semangat menggebu gebu untuk kembali urun tangan dan urun fikiran membangun negerinya.

Pada periode sebelumnya ia telah buktikan misi hidupnya untuk membangun negaranya itu, kini ia merasa perlu kembali menuntaskan misi hidupnya atau tugas spesifiknya di dunia.

Di Indonesia, kita mengenal pak BJ Habibie, kini berusia 80 tahun lebih, namun gelora semangatnya untuk membangun Indonesia tak pernah pupus. Misinya menghebatkan Indonesia, merajut kepulauan dengan membangun industri strategis kedirgantaraan semakin hebat.

Di usianya kini, dimana orang orang seangkatannya sudah berhenti berproduksi, dimana para eyang yang sudah sugih duduk tenang menikmati hari tua bersama cucu dan buyut dengan aset berlimpah, namun pak Habibie justru makin produktif jauh lebih produktif daripada ketika sedang menjabat sebagai menristek maupun wapres dan presiden.

Dia, pak Habibie, akan terus begitu sampai Allah memanggilnya. Menjelang kematian, bagi mereka yang punya misi hidup, adalah waktu waktu terindah untuk memacu karya produktif yang makin bermanfaat. Jelang kematian adalah jelang husnul khatimah, ia adalah pacuan untuk semakin hebat dan banyak mengumpulkan pahala amal. Ia tunaikan misinya sampai tuntas. Bahkan jika kelak wafat, dan dihidupakan kembali maka ia pasti akan mengulangi kembali misi hidupnya itu.

Spirit menunaikan misi hidup ini pulalah yang diteladankan dan ditularkan oleh Rosulullah SAW. Perjalanan isra mi’raj adalah hiburan sekaligus pengakuan dan penguatan keimanan di saat Beliau terpuruk kehilangan istri yang luar biasa setia mendukung misi kenabiannya dan juga kehilangan pamannya sang pelindung utamanya.

Mi’raj adalah peristiwa luarbiasa, beliau mencapai sidratul muntaha, sebuah capaian derajat tertinggi yang belum pernah dicapai manusia siapapun. Berdialog dengan Allah, menerima perintah sholat, mengimami Nabi Nabi sholat, diperlihatkan keindahan syurga dan kedahsyatan neraka serta dipastikan masuk syurga.

Jika kita adalah Muhammad, maka tentu kita tak mau kembali ke dunia, bertemu kembali dengan kesumpekan dunia, kejahatan abu jahal dan abu lahab dstnya. Muhammad Iqbal, seorang sastrwan besar asal Pakistan, menuliskan, “…tetapi Muhammad, Nabi orang Arab itu tetap kembali lagi ke dunia” .

Mengapa? Karena Nabi Muhammad ingin menuntaskan Misi atau Risalah Kenabian nya yaitu menyeru Tauhid, menyempurnakan akhlak manusia, menjadi rahmatan lil alamin, membawa berita gembira dan peringatan.

Sejarah mencatat bagaimana Beliau kemudian menuntaskan Misi nya dengan gemilang sampai Allah wafatkan pada usia 63 tahun.

Begitulah orang-orang yang punya misi hidup yang ajeg, orang orang yang telah menemukan jalan hidupnya di dunia namun dipersembahkan kepada Sang Maha Rahman di langit., itulah Misi, itulah jalan, itulah Shirotol Mustaqiem. Jalan orang orang yang diberi nikmat di atas segala nikmat.

Misi hidup adalah tugas sebagai wujud dan implementasi keimanan dan keyakinan dalam kehidupan nyata. Inilah Jalan kenikmatan bagi mereka yang menikmati tugas kenabian, menikmati mati syahid dalam menjalankan tugasnya, menikmati keshabaran dalam tugasnya, menikmati indahnya memberi dan berbagi dalam tugasnya dstnya.

Maka di bulan Ramadhan, mari kita latih seluruh gerak dan orientasi amal kita sebagai implementasi Imanan, yaitu keyakinan bahwa semua aktifitas kita di dunia harus dalam kerangka menjalankan misi hidup atau tugas spesifik kita di dunia.

Misi Ramadhan kita adalah melakukan amal ibadah terbaik yang langsung Allah yang membalasnya, dengan integritas (ihsan)dan kesadaran penuh (tau’iyah). Visi Ramadhan adalah “mudah mudahan menjadi orang bertaqwa”

Bagi yang belum punya Misi Hidup, mari kita temukan Misi Hidup kita di dunia di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Semoga ibadah kita yang banyak atau renungan yang banyak di malam malam Ramadhan membimbing kita menemukan kembali titik kesadaran untuk apa kita hidup di dunia

Jika misi hidup ditemukan atau titik kesadaran kesejatian diri kita diperoleh, maka itulah malam yang lebih baik daripada seribu bulan, atau setara 82 tahun, rata rata umur terpanjang manusia akhir zaman. Itu bermakna bahwa mereka yang menjalankan misinya seolah pahalanya abadi walau sudah meninggalkan dunia.

Mintalah kepada Allah jalan atau misi hidup kita, karena Allahlah yang paling tahu jalan terbaik bagi kita masing masing.
“Katakanlah Yaa Muhammad, bahwa setiap kalian beramal menurut pembawaannya masing masing, maka Robbmulah yang paling tahu siapa yang lebih benar jalannya”

Jangan sia siakan keberkahan bulan ini, jika masih sendiri maka gali dan rancanglah misi personal, jika sudah berumah tangga, gali dan rancanglah misi keluarga bersama pasangan.

Semoga, setelah Ramadhan kita punya misi hidup yang ajeg dan clear, “saya hadir di muka bumi untuk melakukan …. kepada ….” sebagai titik kesadaran, lalu kita tinggal memacunya dan mewujudkannya sejak Syawal dan mengevaluasinya pada Ramadhan tahun depan, begitu seterusnya, semakin lama makin produktif, dan menjadi pacuan amal menjelang Allah wafatkan. InsyaAllah.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Reff:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.