‘Amal vs ‘Amr

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

‘Amal vs ‘Amr

Ada pertanyaan menarik, bukankah Iblis dalam beramal itu tekun, rajin, tanpa pamrih, disiplin, terorganisir, bershaf shaf dalam team work yang rapih atau berjamaah, pantang menyerah, ulet alias tangguh, hebat dalam perencanaan maupun cepat dalam mengambil keputusan dstnya, yang semuanya itu memenuhi kriteria karakter berkinerja tinggi atau “shalih”, lalu mengapa Iblis dikutuk sampai akhir zaman dan dimasukkan ke neraka?

Mungkin ada yang menjawab, karena iblis tidak beriman. Secara keyakinan, bisa jadi Iblis lebih yakin daripada kita semua, mengapa? Iblis lebih yakin kepada adanya Allah dan Akhirat, karena pernah menghuni syurga dan bertemu Allah dan bahkan berdialog bukan?

Masalah terbesar Iblis adalah karena menolak perintah Allah, atau tugas spesifiknya yaitu sujud kepada Adam AS. Iblis berAmal namun menolak ‘Amr atau perintah spesifiknya atau Tugas Spesifiknya, sehingga keyakinannya tidak dianggap sebagai sebuah keimanan kepada Allah.

Itulah mengapa Amal Shalih tanpa Keimanan dianggap fatamorgana, dan keimanan tanpa memiliki tugas spesifik bukanlah keimanan yang utuh, sekedar keyakinan. Tugas spesifik inilah yang merupakan alasan kehadiran kita di dunia, maka temukanlah. Mustahil Allah tempatkan kita dan makhluk lainnya di muka bumi maupun di semesta tanpa tugas spesifik baik skala personal maupun komunal.

Tugas spesifik inilah ‘Amr atau Peran, yaitu alasan kehadiran kita di dunia yang sering disebut dengan panggilan hidup atau “our calling” atau “our why”. Sementara beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah adalah alasan Allah menghadirkan kita.

‘Amr atau tugas spesifik kita sesungguhnya telah diinstal dalam fitrah fitrah kita. Maka pendidikan sejati sesungguhnya pendidikan yang dapat merawat dan menumbuhkan potensi fitrah sehingga kelak menjadi peran peran terbaik sesuai fitrahnya.

Fitrah keimanan jika tumbuh paripurna akan mengantarkan pada peran menyeru kepada alHaq. Fitrah bakat jika tumbuh paripurna akan mengantarkan pada peran professional atau kepemimpinan dalam bidang tertentu di masyarakat. Fitrah Seksualitas jika tumbuh paripurna akan mengantarkan pada peran keayahan atau keibuan sejati. Fitrah belajar dan bernalar jika tumbuh paripurna akan mengantarkan pada peran innovator untuk melestarikan alam. Kesemua peran itu adalah tugas spesifik kita di dunia.

Namun sayangnya sistem pendidikan di dunia modern tidak berencana mengantarkan kita dan anak anak kita kepada peran peran spesifik itu secara utuh, kecuali sekedar memenuhi lapangan pekerjaan dan mencari uang.

Dan bagi kebanyakan kita lebih penting bagaimana beramal (how) daripada menemukan dan menjalankan tugas spesifik (why) kita di dunia. Padahal ‘amal dan keyakinan tanpa menemukan dan menjalani tugas atau peran (‘amr) itu akan bermasalah besar pada keimanan, dan bernasib buruk mirip Iblis yang diceritakan di atas.

“Katakanlah wahai Muhammad, bahwa setiap kalian beramal menurut bakat (karakter) pembawaan kalian masing masing…” (QS 17:84-85)

Find Your Why, Find Your Way

“Barangsiapa menempuh Jalannya maka akan sampai kepada Tujuannya”

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Reff:

Leave a Reply