- Dakwah, FBE, IMTAQ, Mutiara Pagi

Suami Tak Tangguh

#fitrahbasededucation #fitrahbasedlife

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.

Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Suami Tak Tangguh

Ada ibu seorang PNS mengeluh, sejak ia jadi PNS suaminya merasa “kalah bersaing” lalu jadi malas bekerja, makin lama makin memburuk dalam mencari nafkah.

Ibu yang lain mengeluh, sejak suaminya resign atau phk terhormat, ia tak mampu bangkit kembali. Makin lama makin tak jelas maunya apalagi tanggungjawabnya.

Ibu yang lain merasa dirinya memburuk sejak suaminya terpuruk dan tak mampu bangkit lagi setelah bisnisnya ambruk.

Ibu yang lain bingung, karena sejak ia hamil anak pertama, suaminya seolah tak siap jadi ayah, semakin hari semakin malas dan mengeluh sakit ini dan itu.

Ibu yang lain mirip kasus di atas, ia menggugat cerai suaminya karena suaminya “melarikan diri ke rumah orangtuanya” dan tak mau memberi nafkah sejak suaminya itu mengetahui istrinya hamil.

Ibu yang lain merasa galau, suaminya banyak rencana dan tak berani mengambil keputusan, seolah kepalanya dipenuhi ide ide namun tak satupun berani di eksekusi.

Ibu yang lain putus asa, suaminya “bersembunyi” dalam bungkus agama, menyibukkan dirinya untuk ikut aktifitas keagamaan ini dan itu, tetapi semakin malas mencari nafkah dan “ogah” terlibat mendidik anak.

Ibu yang lain kecewa, suaminya sangat rapuh, namun egois, tak bisa diajak bicara baik baik, mudah tersinggung namun susah bertindak produktif.

Kasus seperti di atas jika ditulis, barangkali bisa sangat panjang dengan beragam variasinya, namun intinya sama, yaitu hari ini banyak ditemukan para suami yang tak tangguh, mudah menyerah, tak berani mengambil keputusan, melarikan diri dari tanggungjawab dengan beragam cara dstnya.

Bagaimana sikap para istri seharusnya menghadapi suami seperti di atas. Seolah seperti berada dalam penjara, lari bermasalah, diam saja bisa sakit jiwa. Rasanya ingin pisah namun kasihan anak anak dsbnya.

Para Ibu yang baik, sebelum melompat ke “bagaimana”, maka tenangkan hati dan fikiran. Yakinlah bahwa semua ini pasti ada maksud Allah, berarti kita dianggap mampu oleh Allah untuk menghadapinya.

Ketahuilah bahwa setiap pernikahan bukanlah kebetulan, adalah semuanya atas izin Allah jika sudah terjadi, maka jadikan sebagai jalan untuk memperbaiki diri dan menambah pahala kebaikan, melatih ketangguhan dan menghapus dosa dosa. Jangan pernah memusuhi suami, banyaklah mendoakannya.

Berikutnya, jangan ambil keputusan dalam keadaan galau atau juga jangan tergesa membuat solusi pendek yang bahkan akan melebarkan masalahnya.

Yang perlu dicatat juga adalah jangan pernah curhat pada bukan ahlinya apalagi curhat pada bukan mahram, itu memicu dan memacu gosip, aib dan perselingkuhan. Curhatlah kepada Allah dan datanglah pada ahlinya utk diselesaikan.

Jika mampu melakukan sendiri, coba gali, akar masalah pada diri suami, mengapa ia bisa seperti itu, makin dalam menggali akar masalah dan potensi perbaikannya maka makin mudah menemukan solusinya dan merencanakan ke depan.

Dalam banyak kasus, suami merasa tidak ada masalah dengan dirinya, maka mintalah orang yang disegani suami untuk bicara padanya agar sadar peran keayahannya, masalah dirinya serta mau komitmen memperbaiki diri.

Selama proses penyadaran dan perbaikan diri suami, yang juga jangan dilupakan adalah membahagiakan diri bunda dan anak anak, tak perlu menunggu suami selesai dengan dirinya. Yakinlah ia suami yang baik, hanya ia sedang “sakit”, ia sedang tak bahagia dan tak selesai dengan dirinya, maka bantulah. Jika bunda berbahagia membersamai anak anak, semoga ia cemburu pada kebahagiaan kalian.

Semoga para bunda diberi keshabaran dan kekuatan untuk “menyembuhkan” para suaminya. Memang berat, karenanya mintalah dengan rewel kepada Allah, agar Allah senantiasa intervensi dan datanglah pada ahlinya untuk dibantu diselesaikan masalahnya.

Pilhannya hanya dua, membantu suami yang “lemah” itu dengan sungguh sungguh sebagai ladang dakwah dan pahala, lalu kelak mendapatkan kebaikan dan cintanya. Atau berpisah dengannya, dengan segala resikonya.

#fitrahbasedlife

Catatan

Membuat tangguh anak lelaki adalah tanggungjawab rumah bukan sekolah

  1. Kokohkan aqidah bukan cuma pelajaran agama agar tangguh dalam hidup
  2. Temukan bakatnya agar bisa bekerja dengan kinerja baik dan professional
  3. Gairahkan dan hebatkan kemampuan belajarnya agar selalu mau belajar dalam kondisi apapun
  4. Berikan sosok Ayah yg tangguh
  5. Kuatkan ego nya dengan memberi kesempatan seluasnya utk mengambil keputusan walau hasilnya salah, agar tak rapuh atau tak egois
  6. Narasikan sejarah keluarga dan narasikan masa depannya agar cemerlang hidupnya. Lembutkan jiwanya agar sensitif thd keburukan dan cinta keharmonian
  7. Sehatkan fisiknya dengan makanan alami dan banyak bergerak di alam. Kesehatan berpengaruh pada ketangguhan
  8. Bangun kedewasaan dan kemandirian, tempalah di alam saat usia 7-10, tempalah di kehidupan saat usia 11-15 sebelum mukalaf

#fitrahbasededucation

Sumber:

About dimaspramudia

Read All Posts By dimaspramudia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.