- FBE, IMTAQ, IPTEK, Mutiara Pagi

Peran Ibu Sepanjang Sejarah dalam budaya Korea dan Indonesia

Peran Ibu

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Peran Ibu Sepanjang Sejarah dalam budaya Korea dan Indonesia

(DIsampaikan dalam pidato berbahasa Korea oleh Raisya Yasmina San )

Ibu, kembalilah… Generasimu rindu padamu.

Selamat siang, saya Raisya seseorang yang memiliki minat besar pada sejarah dan budaya Korea. Pada kesempatan pidato kali ini, saya akan membawakan tema tentang ‘Peran Ibu Sepanjang Sejarah terutama dalam budaya Korea dan Indonesia’.

Ibu, dalam bahasa Indonesia disebut Mamah, dalam bahasa Korea disebut Eomma dalam bahasa Arab disebut Umma. Sebutan untuk seorang Ibu di kebanyakan negara terdengar serupa. Peran Ibu dalam sejarah dunia begitu penting. Kita semua hebat. Berkat “Ibu” yang melahirkan, merawat dan mendidik, kita ada di dunia ini.

Sudut pandang..

Ketika seorang dokter berkata “sangat lemah” dan hendak menyerah bersama jiwa yang lemah, ibulah yang meyelamatkan. Kemudian, ketika seorang guru atau psikolog juga sudah menyerah terhadap anak yang dianggap “cacat”, ibulah yang membesarkan anak tersebut menjadi orang hebat.

Jika ibu tidak ada di dunia ini, banyak kemungkinan, keberanian dan cinta yang tidak akan bangkit. Berdasarkan penelitian terhadap 25 orang hebat, saya betul betul menyadari kebenaran bahwa “di balik orang hebat, terdapat ibu yang hebat”.

Thomas Alva Edison saat muda berhasil membuat lebih dari 1.000 jenis penemuan. Namun tak banyak yang tahu, penemuan nya bermula dari laboratorium buatan sang ibu.

Hyeonmo Yangcheo diambil dari bahasa Cina yang berarti “Ibu yang bijak, Istri yang baik”. Shin Saimdang menjadi salah satu contoh dari Hyeonmo Yangcheo, selain menciptakan karya-karya seni yang agung, beliau juga dianggap berhasil mendidik tujuh anaknya menjadi cemerlang dalam bidang masing-masing.

“Ibu Korea” ini telah menjadi ikon budaya yang sangat baik dari bangsa Korea karena sesungguhnya sepanjang sejarah, para ibu selalu dipuji baik dalam sastra korea, film maupun seni musik. Itu karena sifat pengorbanan mereka yang luar biasa.

Dan mungkin itulah mengapa uang kertas terbesar Korea, nominal 50.000 won, memiliki potret Shin Saimdang yang dikenal sebagai ibu besar dari seorang sarjana terkenal di Korea abad ke-16.

Memang, “sosok ibu” dapat menentukan arah hidup dan juga sebagai kekuatan yang menyelamatkan hidup. Dimana pun itu, rumah tanpa ibu bukanlah rumah. Ibu pada zaman dahulu mengantarkan anak ke peran peradabannya.

Raden Ajeng Kartini adalah tokoh pahlawan perempuan Indonesia yang dikenal memperjuangkan hak pendidikan perempuan di indonesia. Yang diperjuangkan adalah peran keibuan bukan untuk menyaingi laki-laki, agar wanita dapat mendidik anaknya lebih baik sesuai fitrahnya (human nature)

Dari sini kita menyadari bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Namun pada era digital, peran ibu semakin tergerus dikarenakan banyak ibu yang diharuskan menjadi wanita karir. Sehingga tak dapat mendidik anak-anak mereka. Namun di Industri 4.0, banyak peran di dunia pekerjaan yang digantikan oleh robot pintar, sementara pekerjaan seorang ibu tak dapat digantikan oleh siapapun. Berikan yg rumit dan rutin pada robot dan artificial intelligent, kembalikan peran memanusiakan manusia kepada peran ibu sejati

Sepanjang sejarah wanita boleh berkarir namun peran fitrahnya berupa kewajiban mendidik fitrah anak (human nature) tidak ditinggalkan. Karir adalah untuk mengembangkan bakat dan membuat karya untuk peradaban, bukan untuk mencari uang.

Berikut ini bisa jadi inspirasi, di Jepang ada gerakan Kyoiku Mama. Kyoiku Mama berarti ‘Ibu Pendidik’. Dimana menjadi hal yang terhormat jika seorang wanita memutuskan menjadi salah satunya. Rata-rata ibu di Jepang memiliki gelar S1/S2 yang mentereng, namub mereka bersekolah tinggi bukan untuk berkarir tapi untuk “mendidik anak” itulah karier mereka yang tertinggi.

Pemerintah pun sangat memberikan dukungan dengan berbagai bentuk bagi mereka, karena menyadari peran penting mereka bagi pembentukan generasi bangsa. Walaupun mereka ‘hanya’ bertugas mengurusi rumah, mereka beranggapan bahwa pendidikan yang mereka tempuh selama ini tidak sia-sia yakni untuk mengajarkan, mendidik serta terus menerus mendampingi anak-anaknya untuk menemukan siapa diri mereka, apa misi hidupnya hingga memiliki peran peradaban/yang kelak menjadi penerus peradaban, ketimbang mengejar karir. Karena semua dasar peradaban berawal dari ibu.

Kesimpulan..

Andai saya menjadi duta budaya, saya ingin mengkampanyekan gerakan mengembalikan kesejatian peran Ibu di era digital sebagaimana peran yang telah telah ada dalam budaya Indonesia dan budaya Korea. Saya juga akan mendirikan banyak lembaga untuk mengembalikan kesejatian peran ibu untuk para perempuan pada generasi saya.

Karena menjadi menjadi ibu itu bukan pekerjaan, bukan hobi bukan juga tugas tetapi sebuah panggilan. Panggilan untuk mencintai dengan sepenuh hati, mengajar dari hati serta selalu ada untuk anak-anaknya dan mengantarnya ke peran peradaban terbaiknya.

Mari kita kembalikan peran ibu sejati untuk peradaban yang lebih baik.

Saya Raisya, terimakasih.

Reff:

About dimaspramudia

Read All Posts By dimaspramudia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.