Suami (Pemimpin) Sejati

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Suami (Pemimpin) Sejati

Sekarang banyak menjadi pertanyaan, bagaimana ada seorang pemimpin atau suami yang bukan hanya ditaati tetapi juga amat dicintai oleh anak dan istrinya. Sementara suami lain, walau nampak gagah perkasa, sangat rasional, tangguh namun belum tentu atau kebanyakan malah tidak benar benar ditaati apalagi dicintai.

Di era industrialisasi atau era kolonialisme orang berfikir bahwa seorang pemimpin itu seorang yang punya kekuasaan penuh, otoritas penuh, mampu mengendalikan semua orang yang dipimpinnya dengan kekuasaannya itu, mampu membuat perubahan besar sendirian dstnya. Pemimpin atau leaders itu bagai seorang hero yang menguasai dan mengendalikan.

Hari ini dunia nampaknya berfikir ulang, konsep pemimpin dan kepemimpinan seperti itu hanya melahirkan kediktatoran, ketaatan semu, kesalahan dan kefatalan dalam mengambil kebijakan karena “one man show”, “merasa pintar sendiri”, membentuk pengikut yang pengekor buta yang membahayakan semuanya, koruptif karena muncul banyak penjilat dstnya.

Kepemimpinan Sistem

Hari ini, para pakar leadership banyak menyuarakan pentingnya collaborative leadership untuk kepentingan bersama, bukan coalition leadership untuk kepentingan golongan golongan jangka pendek. Dalam peespektif ini, penting untuk membentuk kepemimpinan sistem (system leadership) dimana semua orang dianggap leader sehingga orang didorong untuk mampu mengambil alih tanggungjawab (responsibliity) berinisiatif memberi kontribusi bagi kepentingan bersama.

Itulah mengapa dalam Islam, kepempinan yang benar dan sejati tidak disebut Sultan, Malik, Raja, Penguasa dstnya tetapi disebut sebagai Khalifah yang bermakna wakil Allah, atau Amirul Mukminin yang bermakna orang yang mengurusi atau melayani urusan kaum beriman. Bayangkan bahwa setiap member dalam jama’ah dinilai dan dihitung sebagai orang beriman, punya nilai atau value yang berharga.

Kepemimpinan para pemimpin ini tentu saja harus bersifat collaborative leadership atau kepemimpinan yang sanggup mengkolaborasikan seluruh potensi potensi yang ada di dalam komunitasnya atau keluarganya sehingga menjadi ledakan energi dahsyat karena kekuatan bersinergi. Tiada lagi arogansi sektoral, atau pulau pulau (silos) kekuasaan, yang ada kolaborasi integral tanggungjawab bersama.

Jadi nampak jelas agar keluarga atau organisasi mampu bersinergi maka harus dirancang system leadership atau kepemimpinan sistem dimana di dalamnya terjadi penghargaan atas potensi potensi unik (talents) lalu tentu saja kemampuan menkolaborasikan potensi potensi dan kepemimpinan di dalamnya.

Berfikir Sistem

Itu semua diawali dengan membangun kerangka berfikir sistem, bahwa semua unsur atau member harus bisa saling mendukung dalam cara pandang sistem yang sama atau worldview yang sama namun tetap dalam potensi keunikan masing masing. Berfikir Sistem berarti pula mendahulukan wisdom sebelum rules, memdahulukan believe sebelum teknis, lalu memadukan keduanya.

Jadi membina sebuah keluarga (‘usroh), bangsa (‘ummah), komunitas (‘jama’ah) dstnya sesungguhnya seperti membina seorang perempuan (krn ‘usroh, ‘ummah, ‘jama’ah dll kata berjenis mu’anats alias perempuan) sehingga seorang pemimpin harus mendahulukan wisdom sebelum rules, karena wisdom itulah ranah seorang perempuan dan sistem adalah berjenis kelamin perempuan.

Sebuah sistem kepemimpinan harus mendahulukan Wisdom driven (mothership) bukan Rules driven (fathership), walau pada proses lanjutannya diperlukan kombinasi leadership dan followership, atau fathership dan mothership

Peran kelelakian atau fathership atau leadership sesungguhnya bukan hanya bicara bagaimana memberi komando, memerintah, mengatur, mengendalikan dstnya sebagaimana nampak di permukaan, namun sesungguhnya jauh di bawah permukaan ia adalah seorang great listener, great emphatizer sehingga secara bijak memahami mendalam kebutuhan keluarganya, anak dan istrinya.

Maka dari sifar2 itulah kemudian kecintaan anggota keluarga muncul berupa relasi yg kuat, keyakinan berupa rasa nyaman dan aman berada di naungannya lahir, serta kebanggaan karena ada pengakuan serta penghargaan atas setiap potensi unik keluarganya. Dan ujung dari itu semua adalah tentu saja ketaatan yang tulus dan kritis.

Maka sebuah keluarga, organisasi, komunitas atau bangsa sesungguhnya didrive oleh wisdom sebelum rules, dan seorang pemimpin itu idealnya adalah seorang yg memiliki kemampuan collaborative leadership yaitu mengkolaborasikan potensi potensi baik keimanan, bakat, belajar dan inovasi, ego dan perasaan, logika maskulintas dan empati femininitas di dalam wilayah yg dipimpinnya. Ketaatan dan kepatuhan adalah bagian akhir dari kolektiftas kecintaan, kenyamanan, ketenangan dan kebanggan.

Maka hal mendasar seorang untuk menjadi pemimpin adalah jadilah human being atau manusia seutuhnya yang tumbuh semua aspek fitrahnya agar kelak mampu menghargai, mengkolaborasi dan mensinergikan semua potensi fitrah keluarga dan komunitasnya menuju sinergi peran peradaban mewujudkan misi peradaban keluarganya atau komunitasnya.

Salam Pendidikan Masa Depan

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Reff:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.