Start with Why, and Find Your Why

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Start with Why, and Find Your Why

Semakin dalam kita menemukan Why atau “alasan kehadiran” kita di muka bumi, sungguh semakin bermaknalah kehidupan kita. Semakin bermakna kehidupan kita maka semakin banyaklah manfaat dan rahmat kita berikan pada semesta.

Dan tidaklah orang orang yang dijemput ajalnya meminta ditunda kematiannya, kecuali meminta diberi kesempatan atau ditambah waktunya sebentar saja agar bisa “berinfaq” atau memberi manfaat walau sedikit.

Maka seorang Ulama menulis dalam untaian syairnya,
“Deraskan maknamu,
Bukan tinggikan suara,
Karena hujanlah yang menumbuhkan bunga bunga
Bukan petir dan guruhnya”

Sudah banyak nasehat, bahwa kita semestinya fokus pada mencari makna bukan mencari uang atau harta atau popularitas. Jika kita mencari makna, maka kelak makna datang uangpun datang, namun jika kita mencari uang maka kelak makna hilang dan uangpun hilang. Nasehat lain mengatakan, carilah kebenaran, jangan cari ketenaran, jika kamu mencari kebenaran, maka kebenaran dan ketenaran akan datang.

Dalam karir misalnya, banyak orang ketika muda, merasa hebat, sibuk mencari jabatan dan uang, lalu tanpa sadar usia sudah kepala lima dan menjelang pensiun. Orang orang muda yang lebih hebat lahir dengan bayaran lebih rendah dengan kinerja lebih baik darinya, sementara teman teman pejabat yang menjadi “cantelan” sudah pensiun.

Maka di saat itu, perlahan hartanya habis karena sulit bersaing seperti dulu sementara gaya hidup tak bisa dikurangi. Akhirnya uang hilang dan maknapun hilang, ia tak pernah menemukan peran sesungguhnya di dunia. Ia gagal menemukan “Why” atau alasan kehadirannya atau perannya di dunia.

Begitupula dalam berumah tangga. Banyak orang ketika muda, merasa mampu membayar apapun, termasuk pendidikan anak anaknya. Ia lebih suka mencari uang dengan melalaikan mendidik anak anaknya. Ia mensubkontrakkan atau menitipkan pendidikan anak anaknya sepenuhnya pada lembaga. Maka tanpa terasa, anak anaknya pun beranjak dewasa, lalu mereka kemudian terhenyak menyaksikan berbagai penyimpangan fitrah pada anak anaknya.

Maka di saat itu, perlahan hartanya habis karena membereskan berbagai penyimpangan fitrah anak anaknya, sejak kecanduan game, kecanduan narkoba, depresi, pornografi, LGBT dstnya. Akhirnya uang hilang dan maknapun hilang, ia tak pernah menemukan peran keayahan atau peran kebundaan termasuk peran keluarga yang sesungguhnya di dunia. Ia gagal menemukan “Why” atau alasan kehadirannya sebagai ayah atau ibu yang diamanahkan anak anaknya, juga gagal menemukan alasan kehadiran keluarganya di dunia.

Barangkali kini kita bisa paham mengapa Islam melarang kita menjadikan dunia sebagai orientasi hidup, bukan tidak boleh kaya, namun jangan sampai kita lalai dari menemukan alasan kehadiran kita di dunia atau peran kita di dunia lalu menjalani peran itu dengan bahagia dan penuh manfaat, sementara kekayaan adalah efek semata dari manfaat yang kita berikan pada dunia.

Barangkali kini kita bisa paham, bahwa mengapa kita diminta berTaqwa 24 jam sehari semalam, dengan sebenar benar taqwa dan mereka yang bertaqwa Allah berikan rezqi dan jalan keluar dari arah tak terduga. Itu karena mereka yang berTaqwa senantiasa fokus pada perannya atau jalannya sebagai bagian penting dari melaksanakan perintah Allah dan berhati hati pada laranganNya agar sampai pada tujuan perjalanannya.

Seorang Sahahat Nabi SAW, mengatakan bahwa taqwa ibarat kita berjalan di padang rumput lalu kita berhati hati agar tidak terkena onak dan duri sehingga sampai pada tujuan perjalanan.

Barangkali kini kita bisa paham mengapa kita diminta hidup di dunia hanya sebagai seorang Musafir, itu karena memang kita sedang menjalani peran kita atau alasan kehadiran kita di dunia, sehingga tidak boleh ada yang membebani perjalanan kita dan menyimpangkan orientasi perjalanan kita ketika menjalani peran kita di dunia.

Maka temukanlah alasan kehadiran kita di dunia, “find your why”, your why is your way. Temukanlah “personal mission” kita, temukanlah “family mission” pada keluarga kita, lalu jadikanlah sebagai jalan dan perjalanan hidup kita di dunia

Katahuilah bahwa sepanjang sejarah, mereka yang menjalani hidup sesuai dengan apa yang benar benar mereka jadikan sebagai alasan keberadaan mereka di dunia, maka akan berkinerja tinggi, mencintai apa yang mereka lakukan, dan semakin banyak manfaatnya bagi semesta, serta semakin produktif saat menjelang akhir hidupnya. Kita menyebutnya husnul khotimah atau akhir yang baik. “Dan kami akan menguji, siapa diantara kalian yang paling baik amalnya”

Maka fitrah manusia pun membimbing manusia untuk mengenal Tuhannya dan untuk menjadi baik. Itulah mengapa Nurani manusiapun suka kebaikan dan menolak keburukan walau pemilik nurani berbuat buruk, karena nurani itu selalu benar. Bukan hanya itu, setiap aspek fitrah manusia sesungguhnya juga mengisyaratkan alasan kehadiran atau peran kita di dunia.

“Barangsiapa yang menjalani jalannya maka ia akan sampai kepada tujuannya”

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Reff:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.