Seseorang tergantung agama kawan dekatnya, shahihkah? Dan apa maksudnya? Oleh: Farid Nu’man Hasan

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.

Pertanyaan:
Assalamu ‘Alaikum .., Afwab Ustadz ana pernah dengar hadits: “Seseorang di atas agama kawan dekatnya.” Itu status haditsnya gimana ustadz? Dan maksudnya apa? (dari 085710526xxx)
Jawaban:
Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala Aalihi wa Ashhabihhi wa Man waalah wa ba’d:
Hadits yang antum maksud adalah, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Seorang laki-laki di atas agama sahabat dekatnya, maka hendaknya seseorang di antara kalian melihat kepada siapa dia bersahabat.
Hadits ini diriwayatkan oleh:
– Imam Abu Daud dalam Sunan-nya, Kitabul Adab Bab Man Yu’maru An Yujaalisa, No. 4833
– Imam At Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Az Zuhd ‘an Rasulillah Bab Maa Jaa’a fi Akhdzil Maal bihaqqihi, No. 2378
– Imam Ahmad dalam Musnad-nya No. 8417, dengan lafaz: “Al Mar-u (seseorang) ‘ala diini khalilih …dst”
– Imam Al Hakim dalam Al Mustadrak-nya No. 7320, dengan lafaz: “Al Mar’u ‘ala diini khalilih …dst”
– Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 9436
– Imam Alauddin Al Muttaqi Al Hinda dalam Kanzul ‘Ummal, No. 24777
– Imam ‘Abdu bin Humaid dalam Musnad-nya No. 1431
Hadits ini dihasankan oleh Imam At Tirmidzi. (Lihat Sunan At Tirmidzi No. 2378), dishahihkan oleh Imam An Nawawi. (Lihat Riyadhush Shalihin, Hal. 139), Imam Al Hakim dan Imam Adz Dzahabi mengatakan: “Shahih, Insya Allah.” (Al Mustadrak ‘alash Shahihain No. 7320), Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Isnadnya jayyid (baik).” (Ta’liq Musnad Ahmad No. 8471), Syaikh Al Albani mengatakan: “hasan.” (Lihat Shahihul Jami’ No. 3545, As Silsilah Ash Shahihah No. 927, )
Khaliil artinya kekasih, jamaknya akhilla. Jadi, khaliil lebih dari sahabat dan posisinya sangat spesial.
Maksud hadits ini adalah bahwa kualitas agama seseorang, baik dan buruknya, baik dari sisi pemahaman dan pengamalan, tergantung keadaan sahabat dekatnya. Jika sahabatnya itu shalih, maka dia akan terkena imbas baiknya pada kehidupan dan kepribadiannya, begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, jadikanlah standar bagusnya agama sebagai parameter dalam memilih sahabat dekat, agar seseorang mendapatkan pengaruh baik dari kebagusan agama kawan dekatnya.
Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah menjelaskan:
يعني: أن الإنسان إذا صار خليلاً ومصاحباً لإنسان فإنه يكون مثله في أخلاقه وفي صفاته وفي عبادته. وقوله: (فلينظر أحدكم من يخالل) أي: أنه لا يختار إلا الخليل الطيب، ومن يكون عوناً له على الطاعة، ولا يختار خليلاً يكون عوناً له على المعصية
Yaitu bahwasanya jika manusia telah menjadi teman dekat dan sahabat bagi manusia lain, maka dia akan menjadi sepertinya dalam akhlak, sifat, dan ibadah. Sabda nabi (maka hendaknya seseorang memperhatikan dengan siapa dia bersahabat) yaitu hendaknya jangan memilih teman dekat kecuali yang baik, orang yang bisa menolongnya dalam ketaatan, dan jangan memilih teman dekat yang justru menolongnya dalam maksiat. (Syarh Sunan Abi Daud, 28/2)
Semoga hadits ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk memperhatikan agama seseorang sebagai standar kelayakan dalam bersahabat dan berteman.
Demikian. Wallahu A’lam.

Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Ashhabihi ajmain.

Reff:

http://kumpulanartikelsyariah.blogspot.com/2014/02/kenapa-nabi-menyukai-safar-di-hari.html

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.