Mata Fitrah

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Mata Fitrah

Manusia selalu melihat apa yg ingin dilihat. Jika hari ini kita membenci seseorang dengan sangat, maka semua kebaikannya akan tak terlihat, karena kita sibuk mencari cari keburukannya.

Jika hari ini kita mencintai seseorang dengan sangat, maka semua keburukannya akan tak terlihat, karena kita sibuk mencari cari kebaikannya. Kemudian narasi narasi berikutnya bisa dibuat untuk membungkus kecintaan atau kebencian itu seolah kitalah yang paling obyektif dan paling benar.

Itulah yang terjadi pada suami yang membenci setengah mati istrinya yang akan diceraikannya dan mencintai setengah mati selingkuhannya atau calon istri barunya. Ketika cinta, bidadari yang nampak, namun ketika benci, hanya seonggok makhluk yang menyebalkan.

Itulah juga yang terjadi pada para pengikut yang mencintai setengah mati pemimpinnya dan membenci setengah mati pemimpin kelompok lainnya, ia hanya menemukan kebaikan atas apa yang dicintainya dan berusaha menutup mata atas apa keburukan dari yang dicintainya itu, sebaliknya apabila pada pemimpin yang dibencinya.

Itu pula yang terjadi pada orangtua terhadap anak anaknya, umumnya sangat subyektif dan bisa sangat negatif, karena orangtua modern sebagai subyek hidup di era dimana orang lebih sibuk melihat kelemahan orang daripada kekuatannya, lebih fokus pada melihat sisi kegelapan seseorang daripada sisi cahayanya.

Ada kisah orang yang menjelek jelekkan kota Makkah dengan mengatakan bahwa disana ada perjudian, pelacuran, minuman keras dstnya. Lalu seorang Ulama menanggapi, “justru saya melihat masjid, Islamic center dan pusat kebaikan di New York”. Apa maknanya?

Manusia sangat subyektif dalam menilai sesuatu, ia hanya mau melihat apa yang ingin dilihat, dan menutup mata atas apa yang tak ingin dilihat, itu wajar, seringnya sangat syahwati namun kurang imani. Bahkan para koruptor pun tetap melihat kebaikan dirinya dan tidak mau dipersalahkan walau tertangkap basah sekalipun.

Itu karena nurani manusia selalu benar dan karena selalu benar itulah walau pemilik nurani itu berperilaku salah, maka nurani tak pernah rela dipersalahkan. Maka sampai sini kita bisa mulai paham, itulah pentinganya pensucian jiwa atau tazkiyatunnafs, agar Allah SWT selalu membeningkan hati, agar mata fitrah kita bisa dengan tulus, ikhlash, tajam melihat segala sesuatunya secara obyektif bukan nafsu subyektif.

Itulah mengapa kita diminta selalu mengenang kebaikan orang lain kepada kita dan mengingat keburukan kita padanya. Sebaliknya, kita diminta selalu melupakan keburukan orang lain terhadap kita dan melupakan kebaikan kita kepadanya. Agar apa? Agar kita bisa selalu obyektif dan positif serta optmis.

Umar bin Khattab RA dalam konteks pendidikan mengatakan, “jika anakmu berbuat kebaikan maka catatlah, jika berbuat keburukan maka lupakan”.

Selalu mengingat keburukan dalam waktu yang panjang akan menumpulkan mata fitrah kita dari melihat kebaikan dan menyebabkan pensikapan negatif dan pasti tak obyektif. Namun selalu mengingat kebaikan dalam kurun waktu yang panjang, akan menajamkan mata kita untuk optimis melihat lebih banyak lagi kebaikan yang tak nampak dan bisa dikeluarkan dari dalam untuk kebaikan.

Cara pandang yang subyektif itu bermuatan ego berlebih, yaitu untuk membenarkan diri kita dan pembenaran atas kecintaan atau kebencian kita kepada sesuatu, sehingga kita sering tergesa dan salah menjudgment. Bahasa kerennya, “gelap mata”. Mengapa disebut “gelap mata,” karena matanya terhalang dari melihat cahaya, hanya sibuk pada kegelapan.

Dulu pernah diceritakan bagaimana siswa trouble maker yang dibenci semua guru, namun bisa tiba tiba membaik 180 derajat dalam waktu sepekan, hanya karena ada mata fitrah seorang guru yang mampu berempati menyerap dan menangkap masalahnya, resah dan gelisahnya, harapannya dan cita citanya lalu guru ini kemudian menajamkan ide dan intuisinya untuk memberikan solusi.

Dulu pernah diceritakan betapa pusingnya sebuah perusahaan kereta membuat penumpang kereta tertib dan tidak naik di atas kereta, kemudian ketika perusahaan ini kembali sadar dan menggunakan mata fitrahnya, maka ia bisa menangkap fitrah penumpang kereta yaitu aman, nyaman, bersih, murah, tepat waktu dll. Ketika fokus pada idea dan solusi untuk memfasilitasi fitrah penumpang tsb maka selesailah semua masalahnya.

Sesungguhnya, banyak masalah di dunia ini bisa selesai dengan baik dan indah bahkan menebar rahmat, hanya dengan cara sederhana, yaitu gunakan mata fitrah yang berangkat dari kebeningan hati atau jiwa yang senantiasa diupayakan untuk disucikan. Mata fitrah inilah yang mampu tenang dan optimis untuk menemukan idea dan solusi terbaik dan penuh manfaat.

Sesungguhnya banyak masalah yang kemudian berkembang menjadi kekacauan berlarut bahkan kehancuran, hanya karena gagal menggunakan mata fitrah, tetapi menggunakan mata penjajah.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Reff:

Leave a Reply