Keep Relax n Optimist

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Keep Relax n Optimist

Seorang ibu sedih betul, ia merasa gagal mendidik anak lelakinya usia 11 tahun, karena sering mencuri curi melihat foto atau film yang memperlihatkan lelaki dan perempuan berciuman. Hapenya sudah diproteksi, anaknya sdh ditegur dan dinasehati, tetapi nampaknya rasa penasaran seorang lelaki menjelang kedewasaannya tak terbendung. Anaknya masih saja mencuri curi menonton. Ibunya panik dan sedih, merasa gagal, sampai kapan hape bisa diproteksi, sampai kapan anaknya berkhianat di belakangnya dstnya.

Banyak ortu mengalami perasaan gagal jadi ortu melihat perubahan anak anaknya menuju kedewasaan. Anak yang dulu patuh, manut nurut, dekat dll kini sejak usia 11-12 tahun nampak menjauh, berperilaku mengejutkan, beberapa nampak berkhianat di belakang ortunya dll.

Semua yang diajarkan sejak kecil nampak menguap begitu saja. Anak anaknya kini tidak mau diatur, lebih suka berkumpul dengan temannya atau mengurung diri di kamar, hapenya dipassword, dalam sehari tidak banyak dialog dengan ortunya kecuali kata kata pendek, banyak menuntut dsbnya.

Ini bukan hanya melanda anak anak yang bersekolah di dekat rumah, termasuk anak anak yang bertahun tahun diboarding school juga. Banyak orangtua kecewa, harapan agar anak shalih dan santun sepulang disekolahkan di sekolah Islam atau sepulang dari pondok, seperti mimpi di siang bolong. Fenomena anak “libur syariah” ketika pulang dari pondok nampak sudah biasa.

Perasaan gagal menjadi orangtua, sering melanda para orangtua krn sesungguhnya mereka kaget dan panik serta tdk siap menerima perubahan pada anak yg sebenarnya wajar wajar saja dan hanya perlu sikap arif dan produktif utk menyalurkannya.

Justru kepanikan dan kemudian protektif berlebihan itu malah akan membuat anak merespon negatif, sehingga kemungkinan besarnya ia akan terus berkhianat di belakang ortunya atau ia malah mematikan perkembangan kedewasaannya yg wajar. Jadi runyam bukan.

Maka ayah bunda, tetaplah rileks dan optimis dalam mendidik, syukuri perkembangan kedewasaannya dengan sikap wajar, tetaplah arif dan bijak menghebatkan cahaya ananda bukan sibuk pada kegelapannya. Jangan tergesa untuk berlebihan dalam bertidak.

Lebih baik kita peluk anak kita yang menjelang dewasa itu dgn penuh cinta, mohonkan maaf dan sambil penuh senyum dan syukur katakan alhamdulillah anakku sdh dewasa, lalu katakan bhw wajar rasa penasaran menjelang kedewasaan itu, namun jangan diumbar, jelaskan peran lelaki dan ayah dalam syariah.

Buatlah emphaty map, lakukan dialog penuh empati bukan interogasi, petakan kegelisahannya, perasaannya, frustasinya, penasarannya, harapan harapannya, mimpinya dstmya. Lalu biakkan idea2 keren untuk membantunya, detailkan sehingga menjadi program produktif.

Maka penting mendekatkan ananda kepada ayahnya agar mampu tegas menghadapi zamannya, fokus pada perannya dan siap menjalani masa perkembangannya, dan penting mendekatkan ananda pada ibunya agar mampu lebih hati hati dan tenang menghadapi dunia dan gejolak perasaan dan penasarannya.

Sekali lagi, daripada sedih, rasa gagal dan panik tak jelas juntrungannya, mari relaks dan optimis, ajak ananda untuk fokus pada cahayanya bukan sibuk memadamkan kegelapannya. Mari sibuk meng-aqilbaligh-kannya atau memukalafkannya, ajak ananda merancang hidupnya dan masa depannya, fokus pada pengembangan dirinya baik bakatnya, keimanannya, seksualitasnya, inovasinya dstnya.

Yakinlah, mustahil Allah ciptakan anak anak kita tanpa peran istimewa di masa depan. Yakinlah bahwa ketika Allah berikan amanah anak kpd kita, maka kitalah orangtua versi terbaik untuk anak anak kita menurut Allah SWT.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.