Karakteristik Misi Hidup

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Karakteristik Misi Hidup Kita

Setiap kita dihadirkan di dunia bukan kebetulan apalagi sia sia, tetapi setiap kita juga anak anak kita sejatinya punya tugas berupa peran spesifik istimewa yang ditunggu tunggu dunia, yang dengan peran spesifik itulah kita menebar banyak manfaat dan rahmat selama hidup di dunia sehingga menjadi pahala yang besar di akhirat, yang dèngan peran spesifik itu pulalah Allah menjadi ridha, lalu kita layak dijadikan HambaNya karena menuntaskan tugas spesifik kita sehingga pantaslah untuk mendapatkan syurgaNya.

Peran spesifik istimewa itulah yang disebut Mission of Life atau Misi Hidup. Lalu apa karakteristiknya sehingga kita yakin bahwa itulah Misi Hidup kita baik pada level personal, level keluarga maupun level komunitas dan organisasi? Silahkan simak karakteristiknya sbb

  1. Memanggil Manggil

Dikisahkan bahwa Rasulullah SAW beberapa saat sebelum diangkat menjadi Nabi, sepanjang perjalanan menuju gua Hira, Beliau merasakan pohon dan batu di sepanjang perjalanan memanggil beliau dengan “Anta Rosul” (Anda Rasul).
Begitulah panggilan hidup, ia seolah memanggil manggil seseorang utk menuju misi hidupnya atau panggilan hidupnya.

Dalam QS 17 ayat 84, “katakanlah (yaa Muhammad) bahwa setiap orang beramal menurut bakat atau karakter pembawaannya masing masing, dan Robbmulah yang paling mengetahui siapa yang paling benar jalannya”

Itulah mengapa orang harus mendekat kpd Allah agar Allah menunjuki jalannya atau panggilan hidupnya karena Allahlah yang paling tahu jalan yg tepat baginya. Jika anda tak pernah “mendengar” panggilan apapun, maka Tazkiyatunnafs adalah jalan terbaik untuk mengembalikan fitrah, menajamkan basyirah kita agar mata dan telinga bathin kita mampu menangkap panggilan itu.

  1. Berorientasi ke Langit

Tiap sholat kita selalu minta ditunjuki Jalan yang Lurus di surat alFatihah minimal 17 kali, tetapi bukan meminta cara yang lurus. Dalam tafsir, shirotol mustaqiem adalah jalan yang berorientasi ke langit atau berorientasi kpd Allah (Robbaniyyin) bukan berorientasi ke bumi walau tentu semua yang dilakukan itu dilakukan di bumi.

Jalan yang Lurus itu adalah jalan orang orang yang diberi nikmat, namun nikmat itu bukan kesenangan dunia bahkan itu jalannya para Nabi, para Syuhadaa dstnya yang bergelimang ujian dan tantangan. Namun bagi orang orang yang punya jalan atau misi hidup semua ujian dan tantangan adalah kenikmatan dan kebahagiaan dalam menjalani misi hidupnya.

  1. Melahirkan Ketenangan dan Kebahagiaan Sejati

Panggilan hidup yang berorientasi ke langit itulah yang disebut misi hidup atau tugas hidup atau panggilan hidup. Cirinya adalah senantiasa membuat kita bahagia melakukannya, melahirkan ketenangan, menjadikan kita bebas kreatif krn tak berorientasi materi atau tdk menunggu2 harta/kekuasaan/popularitas dstnya.

Sementara jika apa yg kita lakukan itu membuat semakin cemas, panik, ketidak tenangan dan kegelisahan bahkan ketakutan, lalu jika gagal frustasi dan jika berhasil makin serakah dan jumawa, kemudian malah sibuk berkompetisi mengalahkan orang lain bukan sibuk menebar manfaat dan rahmat, dstnya maka dipastikan itu bukan panggilan hidup atau misi sejati hidup kita tetapi cuma obsesi hubbuddunya dan karohiyatul maut (cinta dunia dan takut mati).

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada keridhaan Robbmu, masuklah ke dalam golongan Hambaku, dan masuklah ke dalam SyurgaKu”

  1. Semua Misi Hidup harus Bermanfaat dan Menebar Rahmat

Apapun misi hidp kita, ia harus bermakna, bermanfaat sebesar besarnya bagi semesta. Dalam skala personal, misi hidup harus menebarkan rahmat bagi semesta (rahmatan lil alamin) dan memberi kabar gembira/solution dan peringatan (bashiro wa nadziro). Dalam skala komunal, misi hidup harus secara kolektif melahirkan komunitas yang menjadi the best model (khoiru ummah) dan the orchestrator (ummatan wasathon).

  1. Misi Hidup harus Spesifik dan Tak Kenal Pensiun

Contoh Misi hidup yang tak spesifik adalah “khoirinnaas yanfa’u linnaaas” atau sebaik baik manusia yang paling bermanfaat untuk manusia. Misi hidup seperti ini amat generik, karena semua misi hidup memang harus bermanfaat dan produktif. Maka harus dispesifikasikan manfaat apa yang ingin diberikan, berupa aktifitas apa, kepada siapa, manusia atau alam dstnya.

Contoh Misi Hidup yang spesifik sbb

“Saya atau Keluarga Saya Hadir di Muka Bumi untuk Membangun Industri Strategis Pesawat Terbang untuk Kemajuan dan Persatuan bangsa Indonesia. Pesawat Terbang yang saya rancang itu khas Indonesia dengan landasan pacu pendek, mampu terbang di segala cuaca di Indonesia, hemat bahan bakar dll sehingga bisa menjangkau pulau pulau terpencil, memperlancar distribusi logistik sehingga ekonomi merata dll”

Sebagai catatan. Perbedaan Misi, Visi dan Strategi

Di Indonesia, kebanyakan orang memulai dari visi lalu misi. Sementara misi dinggap langkah langkah mewujudkan visi .

Sesungguhnya ini kebiasaan yang salah karena berangkat dari keyakinan yang salah bahwa visi mendrive misi. Akibatnya, banyak orang yang tercapai visi (cita cita)nya namun tak bahagia dan frustasi, karena tak sesuai dengan panggilan hidupnya.

Jadi sebenarnya Misi dulu, baru Visi sebagai hasil dari Misi. Lalu langkah langkah mewujudkan Visi disebut dengan Strategi

MISI itu bermakna Tugas atau Peran, akifitas yg merupakan panggilan hidup yg menggebu gebu ingin dilakukan. Jadi pernyataan MISI dimulai dengan kata kerja, seperti “membangun… melahirkan… membantu… dsnya” lalu disebutkan kepada “siapa” penerima manfaat dan dengan “cara apa”. Makin spesifik makin bagus dan bisa dijadikan program nyata. Makin tak spesifik, makin mengawang dan sulit untuk difokuskan menjadi program.

Kalau Visi itu pandangan, vision, citacita dan harus relevan dengan peran atau tugas atau misi di dunia, maka ditulis dengan kata keadaan, “menjadi… terbentuk… berwujud….”

Rasulullah SAW sering diperlihatkan visi atau pandangan masa depan, misalnya ketika menggali parit Khondaq, diperlihatkan vision tentang masuknya Islam ke Istana Putih Persia untuk mendapat kunci kunci kekaisaran Persia. Juga visi tentang penaklukan Konstatinopel dan Roma dll. Karena beliau Nabi yang membawa misi Kenabian untuk ummat akhir zaman, maka visi beliau selalu dibimbing oleh langit dan melampaui usia beliau.

Nah, itulah Visi dan harus relevan dengan Misi Kenabian yaitu Menyeru manusia dari Kegelapan Agama Agama kepada Cahaya Islam, Membebaskan manusia dari penghambaan kepada makhluk kepada penghambaan hanya kepada Allah semata, dan membawa manusia dari kegelapan dunia kepada kebahagiaan akhirat. Jadi visi itu hasil capaian daripada misi sehingga harus relevan dengan misi.

Berikut hal hal yang menghambat seseorang menemukan misi hidupnya atau panggilan hidupnya adalah

  1. Rutinitas

Bagi banyak orang, hidup seperti pacuan, namun sayangnya pacuan yang tak kemana mana juga. Pergi pagi, kerja, pulang, tidur, pergi pagi, kerja, pulang, tidur dstnya, lalu weekend adalah waktu mengentaskan stress rutinitas dengan berwisata atau ikut ceramah atau berbelanja. Begitu seterusnya, tiba tiba umur sudah kepala 4 atau 5, lalu pensiun dan menunggu kematian dengan harta simpanan yang tak seberapa itu.

Begitulah kemudian kita lupa bahwa hidup itu sesungguhnya harus jelas misi hidup, harus punya peran spesifik yang merupakan panggilan hidup. Maksud Allah menciptakan kita memang untuk beribadah, namun kita tak akan mencapai maksud penciptaan itu jika tak punya tugas spesifik atau misi hidup di dunia. Di bulan Ramadhan sebenarnya semua rutinitas itu dibakar, agar kita kembali kepada titik kesadaran fitrah kita, yaitu menemukan jawaban dari mengapa kita dilahirkan.

  1. Kesombongan

Ini penyakit Iblis yang merasa sudah tak perlu misi hidup karena merasa sudah hebat secara materi. Iblis menolak misi hidupnya yang merupakan perintah Allah untuk sujud kepada Adam AS, maka kita saksikan bahwa dosa menolak perintah jauh lebih besar dan tak terampunkan dibanding dosa melanggar larangan.

Berapa banyak manusia yang karena kekuasaan, kekayaan, popularitas dll menolak untuk menerima dan menyambut panggilan hidupnya bahkan tak merasa perlu menemukannya.

  1. Kecanduan

Seringkali seseorang mengikuti sesuatu bukan karena itu sungguh sungguh relevan dengan misi hidupnya atau panggilan hidupnya, te4api sekedar ikut arus semata, ikut apa yang orang lakukan tanpa sungguh sungguh memahami maknanya bahkan seolah mewajibkannya begitu saja.

  1. Kemaksiatan atauTidak Fokus pada Kebaikan

Kemaksiatan yang komulatif jelas menghalangi manusia dari menemukan hakekat keberadaannya di muka bumi.

“Ketika seseorang berbuat dosa maka Allah berikan titik hitam di hatinya. Jika ia bertaubat, memohon ampun dan meninggalkan dosa itu maka bersihlah hatinya. Jika ia menambah dosanya maka bertambahlah pula titik hitam itu di hatinya, sampai menjadi tertutup pekatlah hatinya. Dan itulah “ronna” yang Allah sebutkan di dalam alQuran (QS alMuthofifin)”

  1. Keserakahan

Serakah menghalangi manusia dari menemukan misi sejati hidupnya. Ia tak bisa lagi membedakan mana misi hidup dan mana obsesi hidup. Keinginannya berkuasa, kaya dan terkenal segera menutup jalan hidupnya atau menutup panggilan hidupnya. Menurut pepatah, “Sungguh dunia tak pernah cukip bagi mereka yang serakah”.

Sesungguhnya misi hidup itu tentang seberapa banyak kita bisa memberi sebanyak banyaknya, bukan bagaimana mengambil sebanyak banyaknya.

Bagaimana kiat sederhana menyusun Misi Hidup (Personal Mission Statement dan Family Mission Statement)? Tunggu tulisan berikutnya

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Reff:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.