Jalan Unik Memutar

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Jalan Unik Memutar

Keinginan untuk melakukan perubahan untuk dunia dan peradaban agar menjadi lebih baik adalah fitrah manusia, bahkan tanpa keinginan melakukan perubahan itu maka disangsikan fitrah kita masih “right on place”.

Namun sayangnya, di tataran praktis perjuangan, idealisme untuk melakukan perubahan seperti di atas tidak selalu mudah mengimplementasikannya.

Para pejuang perubahan itu sering berhadapan dengan tembok besar kezhaliman yang menghalangi, atau hutan belantara kemungkaran yang bisa membuat tersesat bahkan binasa di dalamnya atau arus kebathilan yang melibas dan menghanyutkan mereka yang ingin membuat perubahan ke arah yang lebih baik.

Lalu umumnya para pejuang perubahan itu menjadi frustasi dan hanya bisa meratapi kebiadaban. Sebagian lagi berupaya menjadi tabib kebiadaban sepanjang hidupnya bagai sinetron “never ending story” lalu menuai penderitaan sampai akhir. Sebagian lagi malah menjadi pengikut kebathilan dengan alasan kompromi untuk menutupi pilihan pragmatismenya.

Namun ada nasehat yang nanti kita lihat bahwa beginilah Allah menghendaki hambaNya dalam membuat perubahan. Seorang arsitek, teoretikus sistem, penulis, visioner, desainer, dan pencipta, bernama Buckminster Fuller pernah mengatakan

“You Never Change Things By Fighting The Existing Reality. To Change Something, Build A New Model That Makes The Existing Model Obsolete.”

Terjemahan tulisan di atas kurang lebih

“Anda tidak akan pernah mengubah sesuatu dengan cara Melawan Realitas yang ada. Untuk Mengubah Sesuatu, maka bangunlah Model Baru yang Membuat Model yang sudah ada menjadi Usang.”

Fulller mengajukan tawaran untuk tidak berhadap hadapan langsung dengan masalah ketika ingin merubahnya, ia menawarkan kita untuk membuat sebuah model baru yang baik sehingga kemudian masalah yang ada itu menjadi basi dan tidak laku lagi.

Jika kita membuka SIrah Nabawiyah, bagaimana suasana ketika menjelang kelahiran Rasulullah SAW, dimana manusia merasa dunia akan kiamat karena berada dalam kepekatan gelap akibat penjajahan dan perbudakan Imperium Romawi dan Imperium Persia selama ratusan tahun.

Sebagian manusia menunggu nunggu datangnya Nabi Akhir Zaman untuk membuat perubahan. Namun ternyata Allah SWT tidak mengutus Nabi Muhammad SAW di pusat kezhaliman, di jantung Romawi maupun Persia, namun justru di Mekkah, pada bangsa Arab yang terbelakang dalam ukuran ketika itu, dengan sumberdaya alam yang tidak menarik karena gersang, tandus dan panas.

Persia dan Romawi sendiri justru jauh lebih tertarik dengan Yaman, sebuah negeri jauh di selatan Jazirah Arabia. Kedua imperium ini bergantian menjajah Yaman, bahkan ketika Rasulullah SAW lahir, Yaman sedang dikuasai oleh Gubernur Persia bernama Abrahah yang kita kenal berusaha menghancurkan Ka’bah dengan Pasukan Gajahnya, pasukan khas Persia.

Begitulah Allah SWT menginginkan perubahan itu tidak di jantung masalah, namun jauh dari masalah, agar Sang Nabi mampu menjadi arsitek peradaban dengan model yang unik, yang mampu membuat model lama menjadi usang. Dan Allah juga memberikan pelajaran penting bahwa tidak ada satu tempat di bumi Allah yang tidak punya potensi menjadi peradaban hebat walau di padang pasir sekalipun.

Cara Berfikir bahwa lebih baik menjadi arsitek peradaban daripada menjadi tabib kebiadaban apalagi meratapi kebiadan adalah cara berfikir yang indah dan sesuai fitrah. Maka kita temukan dalam lembar lembar Kitabullah bahwa kita tidak diminta menterapi kebiadaban, namun justru diminta menjadi arsitek peradaban bagi model yang unik untuk generasi yang unik.

Cara berfikir demikianlah yang membuat peradaban Islam senantiasa cemerlang karena selalu optimis dengan jalan dan model yang unik yang tidak harus berhadapan “head to head” dengan kezhaliman, namun menggunakan jalan memutar yang unik.

Dalam strategi berperang juga demikian, kita saksikan betapa sejarah mencatat bagaimana perjuangan Muhammad alFatih yang menggotong ratusan kapal laut perangnya lewat jalan darat memutar perbukitan untuk menaklukan benteng Konstantinopel dari arah samping. Sebuah strategi unik yang tak pernah terbayangkan panglima perang manapun.

Ummat Islam hari ini menghadapi berbagai masalah yang sulit diurai, kepekatan kebathilannya terlalu dalam. Maka daripada kita sibuk meratapi kebiadaban atau jadi tabib kebiadaban, maka tawaran untuk menjadi arsitek peradaban atau membuat jalan memutar atau model baru yang unik perlu menjadi pertimbangan.serius.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.