it takes a village to raise a child

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Di sebuah perumahan, kakak beradik usia sekolah dasar mendownload video porno dan membagikan ke teman temannya di perumahannya. Satu perumahan geger, mereka menyalahkan orangtua anak anak ini. Usut punya usut ternyata internet menyala selama 24 jam di rumahnya tanpa pengawasan, dan masalahnya bukan itu, tetapi kedua orangtuanya sibuk bekerja tak punya waktu membersamai anak anaknya. Orangtua begini hanya sanggup memfasilitasi apapun namun tak mampu mendidik apapun. Para tetangga mengecam habis habisan kedua orangtua ini.


Di sebuah perumahan lain, di salah satu keluarga, anak anak mereka sejak kecil sering berkelahi sesama mereka. Ayah di keluarga ini seorang pelaut yang jarang pulang, sang istri nampaknya tidak sanggup menangani anak anaknya bahkan cenderung pasif. Kini ketika anak anak itu beranjak remaja, mereka semakin sering berkelahi bahkan menggunakan samurai. Para tetangga tak berani melerai, anak anak mereka terancam, ketua rukun tetangga atau rukun wargapun tak sanggup, mereka hanya mampu mengecam habis habisan keluarga ini.


Teman teman Ayah Bunda yang baik,

Dua kasus di atas atau semisal itu barangkali pernah terjadi di komplek perumahan kita, khususnya di perumahan perumahan di kota besar. Para keluarga perumahan umumnya adalah suami istri yang sibuk dan merasa selesai kewajiban mendidik anak anaknya jika bisa memasukkannya di sekolah bergengsi.

Sebagian besar kita merasa cukup apabila telah “mengamankan anak anaknya masing masing”. Seringkali kita merasa tak perlu peduli pada pendidikan anak anak tetangga. Maka terjadilah hal hal di atas.

Ternyata tidak peduli pada pendidikan anak anak tetangga kita, itu sama juga dengan sedang menyiapkan musuh dan mara bahaya bagi anak anak kita sendiri. Sebaliknya, jika kita peduli pada pendidikan anak anak tetangga atau anak teman, maka sesungguhnya kita menyiapkan teman teman yang baik bagi anak anak kita sendiri di masa depan.

Alangkah indahnya jika setiap perumahan atau sekolah, para orangtua membentuk komunitas untuk secara berjama’h mendidik anak anak mereka, menyelenggarakan forum forum parenting, event event kunjungan atau ekspedisi mendidik anak bersama, saling menghomestay kan anak apabila ada yang berhalangan, bisa pula saling memagangkan anak untuk bakat yang relevan dengan profesi atau bisnis para orangtua di perumahan.

Pepatah Afrika mengatakan “it takes a village to raise a child” – butuh orang sekampung untuk membesarkan anak.

Mari kita bangun komunitas untuk mendidik bersama. Anak anak kita kelak akan bangga mengatakan bahwa dirinya dibesarkan dan dididik dengan hebat oleh komunitas perumahan yang ia tinggali, bukan tidak mungkin anak anak kita kelak akan menjadi partner bisnis, partner dakwah, bahkan bagi anak lelaki dan anak perempuan kelak sebagai partner hidup.

Lebih bagus lagi jika masjid perumahan menjadi sentra mendidik bersama, bukan sekedar belajar agama tetapi para orangtua saling tolong menolong dalam menumbuhkan fitrah anak anaknya juga membentuk adab. Bahkan jika tersedia Ustadz, para orangtua juga dibina dalam Liqo Liqo Parenting, sehingga memahami cara mendidik sesuai fitrah dan juga tidak ada lagi rumahtangga yang mengalami masalah KDRT, Ekonomi dll namun tidak ada yang mendampingi.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Reff:

Leave a Reply