Islamic Worldview dan Pendidikan Islam – Introduction

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Resume Workshop #1 Islamic Worldview dan Pendidikan Islam – Introduction, 29 April 2018, pkl 20.00-23.00 WIT.
Bersama Prof. Wan Mohd dan Dr. Adian Husaini

Hari ini Ummat Islam pada umumnya dikuasai dan dipengaruhi oleh worldview (cara pandang terhadap segala sesuatu) di luar Islam, sehingga kemudian pada tataran ekonomi, pendidikan, politik dsbnya Ummat ini benar benar terpasung cara berfikir, cara merasa dan cara bertindak di luar Islam terhadap apapun yang dijalaninya.

Ketika ada kerinduan Ummat Islam untuk kembali kepada Islam, munculah beragam produk Islam, seperti Perbankan Syariah, Sekolah Islam, Partai Politik Islam, Pemimpin Islam dstnya, namun sayangnya karena tak berangkat dari Islamic Worldview maka produk Islam itu hanya berupa penempelan Islam saja, sekedar casing casing syariah semata, tetapi platform dan mindsetnya tetap bukan Islam. Produk produk itu sekedar produk tanpa berangkat dari sejarah, filosofi, khazanah Islam yang kokoh.

Islamic Worldview adalah cara pandang Islam terhadap manusia, ilmu atau sains (Alam), Sejarah, Kehidupan dan Zaman (Waktu) serta Kitabullah atau Sistem Hidup atau Ethics. Ia tak berhenti sampai kepada Mindset semata tetapi juga turun kepada sesuatu yang digunakan Ummat dalam kehidupannya.

Islamic Worldview ini dibangun tentu dari pendidikan yang benar yang melahirkan para pemikir dan arsitek peradaban, namun sayangnya pendidikan Islampun diragukan platform dan filosofinya berangkat dari Islamic Worldview. Itu bisa dilihat misalnya dari fenomena para hafizh yang tak berkeinginan menjadi ahli tafsir, atau banyak Doktor bidang tafsir yang tak membuat tafsir kontemporer yang dibutuhkan ummat. Itupula mengapa alumni pendidikan Islam tetap berorientasi menjadi pekerja, pendidikan guru Islam tidak suka menjadi guru di lembaga Islam, alumni aliyah yang jadi karyawan pabrik dstnya.

Dalam sosial media, kebanyakan fokus obrolan dan diskusi (lingkar peduli) juga mengarah hanya kepada tema tema yang sebenarnya bukan otoritasnya dan tanggungjawabnya (circle of control), karena kebanyakan kita tak punya kendali atas diri kita sendiri.

Intinya Islamic Worldview ini membutuhkan arsitek peradaban, yang merancang “why we exist”, merancang cara pandang Islam tentang peradaban dan masa depan ummat Islam misalnya 50 tahun ke depan. Rancangan ini tentu harus memiliki otoritas yang diikuti ummat Islam dalam membangun semua aspek dan bidang kehidupan.

Kemudian rancangan worldview ini harus juga turun kepada taxonomy atau klasifikasi pengetahuan yang bukan hanya menentukan struktur konten pengetahuan, tetapi juga struktur berfikir, struktur fakultas, struktur inovasi, struktur komunitas serta penempatan pakar terbaik atas tiap klas pengetahuan tertentu.

Disinilah kemudian pendidikan bisa memprosesnya menjadi peran peran dalam peradaban, melahirkan nara sumber hebat untuk tiap tema pengetahuan, leader dan rujukan dalam tiap bidang bidang itu kemudian menjadi karya karya peradaban yang memberi kabar gembira dan sekaligus peringatan akan keburukan.

Prof Wan Mencontohkan bagaimana bangsa Yahudi membangun worldviewnya, dimulai dari konsep sampai praktek dan strategi menyebarkannya atau mempengaruhi cara pandang, cara lihat, cara bertindak manusia di dunia.

Sebagai contoh, bangsa Yahudi pernah melakukan konferensi, mengumpulkan 70 pakar nya di jantung kota di Amerika, New York, untuk merancang Jew Worldview dan merancang strategi bangsa Yahudi 50 tahun ke depan. Mereka bervisi untuk menempatkan pakar pakar mereka sebagai rujukan dunia dalam pemikiran, pendidikan, politik, ekonomi dstnya.

Hasil konferensi di atas didokumentasikan dalam majalah Yahudi, “Commentary Magazine” pada November 2015. Yang menarik adalah di akhir pertemuan itu, seorang pembicara mengutip ucapan seorang pemikir Yahudi, pada Abad 1 Masehi, yaitu Hillar.

Ucapan Hillar yang dikutip,
“If I am not for my self, who will be for me”
“If I am for myself, who am i”
“If not now, when?”

Bayangkan betapa bangsa Yahudi masih mengutip pemikiran pemikirnya 2000 tahun lalu. Ucapan itu menunjukkan bagaimana bangsa Yahudi mengkonstruksi “why we exist” untuk membangun peradabannya, tak menunggu ummat lain apalagi meminta bantuan, bahkan mereka harus menampilkan kehebatannya sendiri.

Sejarah adalah faktor penting merancang Worldview, karena dari sejarahlah berbagai pemikiran dan model dapat ditemukan dan dikaji untuk melihat pola kemenangan dan kekalahan.

Sebagai contoh pentingnya menelusuri sejarah, yaitu OECD pernah mempublikasi hasil penelitiannya tentang sejarah Baghdad Abad 10, mengenai bagaimana menangani urbanisasi dan tata kota. dsbnya.

(Selesai)

Reff:

Leave a Reply