Ingin Menuai Tanpa Menanam

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Ingin Menuai Tanpa Menanam

Arief dan istrinya, keluarga muda dengan 3 orang anak usia 11, 7 dan 4 tahun, telah mendiami sebuah perumahan di pinggiran kota besar. Ia dan istrinya dulu adalah anak anak daerah yang merantau kuliah di Bandung, lalu Allah mempertemukan mereka dalam pernikahan.

Sebagaimana keluarga muda lainnya, tanpa warisan orangtua, memulai hidup mandiri setelah menikah, bekerja di kota besar, tentu saja hanya mampu tinggal di daerah pinggiran. Arief harus berangkat pagi gelap sebelum anak bangun tidur dan kembali malam hari setelah anak sudah tidur.

Anak anak keluarga muda seperti anak anak keluarga Arief di atas tentu saja mengalami Parentless. Harapannya tentu saja pada komunitas atau Masjid untuk mendidik bersama. Jika tidak ada komunitas dan masjid, maka pilihannya sudah tentu sekolah formal. Namun banyak orangtua kelahiran 80-90an yang berfikiran maju nampaknya tak lagi percaya dengan sekolah, tetapi sayangnya mendidik anak sendiri tak yakin juga.

Orangtua Millennial

Riset riset membuktikan bahwa orangtua millennial lebih berat dalam mencari nafkah, namun mereka ditenggarai menjadi orangtua yang mandiri belajar parenting via internet walau kadang kebanjiran informasi dan malah menjadi kebingungan sendiri.

Di sisi lain, riset juga mendapatkan kenyataan bahwa orangtua millennial lebih peduli pada anak anaknya, bahkan tiap anak diberi hashtag sehingga membantu menemukan jatidiri anak mereka. Sebagian keluarga over peduli, karena khawatir lingkungan yang buruk, penculikan dll sehingga sebagian disebut sebut bergaya helicopter parenting. Ini bisa menghambat kemandirian dan ketangguhan anak anaknya.

Di sisi lain lagi, ternyata orangtua millennial juga berusaha ingin kembali kepada kehangatan keluarga masa lalu. Banyak keluarga muda mulai menyepakati mematikan gadget ketika sedang makan atau bercengkrama bersama keluarganya.

Sayangnya keluarga keluarga muda ini umumnya tak punya pendamping baik pendamping dalam parenting maupun dalam menjalani bahtera rumah tangga. Di kota kota besar, tiada yang peduli pada keluarga muda ini apabila terjadi krisis rumahtangga seperti kdrt, pengasuhan yang salah, pertengkaran sampai perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, phk atau kesulitasn ekonomi, depresi istri atau depresi suami dll.

Anak Anak Orangtua Millennial

Obyek dakwah hari ini sesungguhnya adalah generasi masa depan, yaitu mereka yg pada hari ini berusia 0 – 25 tahun. Itu artinya bahwa obyek dakwah kita adalah generasi kelahiran 1995 – 2018. Generasi ini disebut generasi Z dan generasi Alpha.

Perusahaan perusahaan yg berorientasi masa depan membidik anak anak muda berbakat Gen Z dan Gen Alpha. Sebuah jargon disepakati, “Barangsiapa bisa mengambil hati Generasi Masa Depan maka akan Memenangkan Masa Depan”.

Sayangnya kita masih tergagap merangkul GenZ dan Gen Alpha, bahkan orangtua merekapun yaitu Gen Y luput dari pembinaan dan pendampingan. Lihatlah masjid masjid kosong dari pembinaan pemuda dan pendampingan keluarga keluarga muda.

Lihatlah masjid dan perumahan kosong dari pembinaan pemuda. Lihatlah anak anak TPA atau PAUD penuh di masjid, orang orangtua juga memenuhi masjid namun masjid kosong dari pembinaan GenZ, anak anak smp dan sma juga mahasiswa.

Pemuda pemuda tumbuh tanpa sentuhan komunitas dan masjid. Masjid tak lagi menjadi tempat mendewasakan dan pusat belajar para pemuda, tempat mereka dibesarkan dan diaqilbalighkan atau dimukalafkan.

Generasi pemuda kita tak lagi mengatakan, “Dulu aku dibesarkan oleh komunitas atau jamaah Masjid, Surau, Meunasah…”

Apa Solusi nya?

  1. Merintis Program Gerakan mengAqilBaligh kan Pemuda berbasis Masjid
  2. Merintis Program Pendampingan Para Orangtua Muda

Seperti apa program di atas? Nantikan tulisan berikutnya

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife

Reff:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.