Imanan wa Ihtisaban #9

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Beberapa tahun silam, seorang ibu menuliskan statusnya di sosial media sbb

“Alhamdulillah anak saya yang hafizh alQuran, sekarang sudah tamat dari ITB, mohon doanya agar segera diterima bekerja”

Apa yang kita fikirkan dan imajinasikan ketika membaca status ini? Mungkin sebagian besar kita merasa baik baik saja dengan status ini, tiada yang nampak salah, itu doa yang baik.

Itu memang doa yang baik dan biasa saja dalam masyarakat modern dimana orang berfikir bahwa begitulah kehidupan, bagaimana agar anak bisa setinggi tingginya bersekolah, rajin beribadah, menguasai ilmu agama dan ilmu dunia, lalu kuliah di kampus wah, menikah, dapat pasangan sholih/sholihah, bekerja di tempat basah, bisa hidup sosial kelas menengah sampai mewah, banyak sedekah lalu wafat husnul khotimah dan masuk jannah. Ini kehidupan yang biasa saja, life as usual.

Namun, andai kita kaitkan dengan konteks maksud penciptaan (the purpose of life), dimana Allah menghadirkan manusia di muka bumi bukan kebetulan tetapi untuk beribadah dan menjadi khalifah, lalu setiap kita hadir di dunia tentunya punya tugas sebagai alasan kehadiran kita di dunia, maka kita akan punya perspektif berbeda, kita akan melihat hidup sebagai kemuliaan besar dan perjuangan besar sebagai wujud keimanan.

Tugas kita di dunia itu berupa peran peran spesifik peradaban (mission of life) dalam rangka mencapai maksud penciptaan itu. Tugas atau peran itu adalah wujud keimanan, karenanya ia merupakan perjuangan dan ujian keimanan utk menyeru kebenaran dan membuat perubahan. Maka dalam perspektif peradaban itu, kehidupan itu bukan tentang bagaimana hidup sejahtera, menjadi orang baik baik dengan keshalihan personal dan sosial apalagi untuk mencari kesenangan diri semata dst nya, bukan.

Tetapi kehidupan itu adalah tentang bagaimana menemukan dan mewujudkan peran peran spesifik atau misi hidup itu lalu berjuang mewujudkannya sampai mati sehingga mampu menebar sebanyak banyak rahmat dan sebesar besar manfaat kepada ummat manusia dan semesta selama di dunia sebagai wujud keimanan yang kokoh.

Pantaskah jika ada orang yang merasa punya majikan, setiap hari “ngantor” di kantor majikan, pakai seragam kantor namun tidak tahu job desk nya, kerja serabutan, lalu mengaku ngaku karyawan dan berharap dapat gajian dan bonus. Begitupula kita manusia, mengaku hamba Allah dan khalifah Allah di muka bumi namun tidak mempunyai tugas spesifik atau peran spesifiknya atau misi hidupnya di dunia.

Jadi sesungguhnya Keimanan atau Imanan dalam pendidikan harus berwujud pada upaya mengantarkan anak anak kita kepada peran peradaban terbaik atau misi besar kehidupannya yang berangkat dari keimanannya yang kokoh untuk membuat perubahan bagi dunia yang lebih damai dan hijau sebagaimana yang Allah kehendaki.

Hamka dalam bukunya “Pribadi yang Hebat”, menulis

“Banyak Guru, Dokter, Hakim, Engineer, banyak orang yang bukunya satu gudang dan diplomanya segulung besar, tiba dalam masyarakat menjadi ”mati”, sebab dia bukan orang masyarakat. Hidupnya hanya mementingkan dirinya, diploma-nya hanya untuk mencari harta, hatinya sudah seperti batu, tidak mempunyai cita-cita, selain dari pada kesenangan dirinya. Pribadinya tidak kuat. Dia bergerak bukan karena dorongan jiwa dan akal. Kepandaiannya yang banyak itu kerap kali menimbulkan takutnya. Bukan menimbulkan keberaniannya memasuki lapangan hidup, mencuba sesuatu baru dan berbakti kpd masyarakat.”

Hari ini kita barangkali merasakan bahwa banyak orang yang tersekolahkan dengan baik (well schooled), namun gagal terdidik dengan baik (un well educated). Kita gagal membawa keimanan masuk ke jantung pendidikan. Pembangunan karakter atau akhlak tanpa keimanan itu omong kosong, hanya mimpi di siang bolong.

Mengapa Pendidikan Islam hari ini condong kepada Penguasaan Ilmu tanpa Peran Peradaban atau Misi Hidup?

Antara tahun 80-90, kita demam untuk melahirkan generasi Ulil Albab, kita terpesona oleh peradaban Islam masa lalu yang mampu menghadirkan orang orang yang menguasai ilmu agama dan sains secara seimbang dan lengkap. Di masa 80an itu ada tokoh seperti pak Habibie yang nampak amazing bagi banyak orang sehingga mulailah babak baru pendidikan Islam untuk melahirkan manusia berotak jerman dan berhati mekkah.

Wujudnya berdiri sekolah sekolah Islam yang ingin memadukan Imtaq dan Iptek, pada prakteknya terjadi akumulasi kurikulum akademik umum nasional dan kurikulum akademik agama bukan integrasi islam dan sains. Memadukan Islam dan sains tak pernah terjadi .

Hal ini berlangsung sampai hari ini. Kurikulum sekolah Islam semakin berat bagi siswa maupun guru, kini bahkan ditambah kurikulum pesantren untuk hafizh alQuran dan bahasa Arab. Belum lagi akhlak dan karakter.

Walhasil kita lupa menekankan bahwa keimanan dalam pendidikan itu seharusnya masuk kepada misi besar dan narasi besar untuk mengantarkan anak anak kita kepada jalan jalan atau peran peran besar peradabannya bukan sekedar penguasaan ilmu agama dan ilmu sains semata. Kita lupa membawa dan menghantarkan generasi peradaban kepada takdir jalan peran peradabannya.

Jangan sampai generasi kita seperti diumpamakan di dalam alQuran seumpama Keledai yang membawa Kitab kitab. Keledai yang membawa kitab itu dikiaskan pada manusia yang bukan hanya tak paham kitab namun juga paham kitab tetapi tak tahu jalan.

Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai titik balik kesadaran kita bahwa keimanan harus masuk ke semua lini kehidupan termasuk pendidikan sehingga gairah keimanan atau aqidah yang kokoh itu berwujud pada upaya mengantarkan anak anak kita kepada peran peradaban terbaiknya bukan penguasaan banyak banyak pengetahuan agama dan sains semata.

Alangkah indah jika status Ibu di atas ditulis dalam konteks peran peradaban

“Alhamdulillah anak saya yang hafizh alQuran, sekarang sudah tamat ITB, mohon doanya agar istiqpmah karena sedang merintis dakwah di Papua dengan mengembangkan energi terbarukan dan pendidikan perikanan untuk Indonesia yang lebih hebat dan dunia yang lebih baik”

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Reff:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.