Harry Santosa – Inspirasi dari Seminar “Combating Pornography”

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Inspirasi dari Seminar “Combating Pornography”

Kemarin, 13 September 2018, saya diundang bu Elly Risman untuk menghadiri Seminar dgn Topik “Combating Pornography..” yg diselenggarkan atas kerjasama Yayasan Buah Hati dan DRC FH UI. Paparan riset bu Elly Risman selama 10 tahun menemukan bhw 97% anak usia 12-16 thn telah terpapar pornografi.

Riset Dr Pukovisa & tim bu Elly Risman juga membuktikan bhw pre frontal cortex, bagian otak yg mulia yg mengontrol perilaku & membedakan manusia dgn hewan mengalami penyusutan lebih dari 4%. Ini bagian otak penting terkait pengambilan keputusan yang bijak dan bermartabat. Riset ini dianggap riset pertama di dunia untuk adiksi pornografi pada anak usia 12-16 tahun. Sebagai tambahan info, Dr. Inong juga memperlihatkan bhw penderita HIV meningkat tajam di usia produktif 22-49 thn, itu artinya penyimpangan perilaku seksual telah dimulai di usia 12 tahun.

Seminar ini sesungguhnya ingin memberikan bukti ilmiah bahwa kecanduan pornografi telah menjadi bencana nasional, dan lebih berbahaya dari narkoba, maupun miras dan judi. Seharusnya ada badan nasional yang seperti BNN yang mengurusi kecanduan non narkoba, termasuk kecanduan games dll.

Beberapa pakar dari FHUI memberi tinjauan dari hukum pidana karena tidak mungkin masuk ke ranah perdata, karena korban dan pelakunya adalah anak di bawah umur. Masalahnya menjadi sangat complicated, seperti misalnya ada anak usia 12 tahun terpapar pornografi lalu memperkosa adiknya dan adiknya hamil, lalu siapa yang dihukum.

Seorang pakar hukum pidana UI mengatakan bahwa hukuman bisa preventif atau represif, bisa berupa penalty atau juga non penalty. Tapi ia menganjurkan bahwa cara terbaik, murah dan efektif adalah menghidupkan kembali kearifan di masyarakat. Indonesia sudah banyak meratifikasi hukum terkait dengan pornografi dll namun pelaksanaannya tidak efektif. Petugas bahkan sering memberi pilihan pada orangtua untuk membayar kasus apabila anaknya tertangkap sebagai pelaku pornografi.

Beliau sempat menceritakan bahwa masa kecilnya ia dibesarkan di Aceh, anak anak usia 9 tahun sejak Ashar ada di Meunasah sampai bada Isya. Beliau menambahkan bahwa anak yang memiliki kekuatan keimanan akan tidak terpengaruh apapun. Saya bersepakat bahwa memang tiada anak yang salah gaul, yang ada adalah salah asuh.

Sementara pakar hukum lainnya di bidang kemasyarakatan, mengatakan bahwa Depok telah mencanangkan sebagai Kota Ramah Anak sejak beberapa tahun lalu dan akan melaunch 2019 sebagai Kota Ramah Anak, namun perilaku para orangtua dan guru juga sekolah sama sekali belum memperlihatkan itu. Selain beban akademis yang berat, juga misalnya ada guru yang membully siswinya karena jilbabnya dinilai tidak syar’i, atau memecat anak dari sekolah karena terpapar pornografi atau hamil dsbnya.

Dua pakar gaek dari Amerika yang didatangkan untuk memaparkan “lesson learnt” perjuangan anti pornografi di Amerika selama puluhan tahun pada akhirnyapun mengatakan bahwa solusi terbaik adalah mengaktifkan lagi peran pendidikan di rumah dan komunitas. Selaras bu Elly dalam pembukaan seminar untuk memulangkan para ayah ke rumah dan menghentikan model sekolah yang memberhalakan akademis. Tingkat perceraian mencapai 40 kasus per jam, kebanyakan melanda pasangan muda dengan 1 dan 2 anak, karena ketidaksiapan menikah.

Kesimpulan saya adalah bahwa perjuangan lewat jalur law enforcement bisa saja namun diragukan efektifitasnya, tanpa mengurangi penghargaan atas riset yang luarbiasa dari bu Elly Risman, riset pertama di dunia untuk anak usia 12-16 tahun terkait adiksi pornografi.

Kini saya merasa semakin yakin bahwa perjuangan teman teman AyahBunda di berbagai komunitas untuk kembali menjadi pendidik rumahan (home education) dan membangun kekuatan komunitas yang mengempower keluarga dengan kearifannya dan misi keluarganya masing masing itu sudah “on the track”.

Sesungguhnya memadamkan kebakaran jauh lebih besar effortnya dan belum tentu ada hasilnya secara efektif. Lebih baik kita menjadi arsitek peradaban, membuat arus baru perubahan, sebuah model baru kebaikan yang membuat model lama kemungkaran menjadi usang.

Gerakan mengAqilBalighkan pemuda harus menjadi program komunitas maupun Masjid, agar lahir pemuda Mukalaf yang mandiri, mampu memikul beban syariah dan telah punya peran peradaban di usia 15-19 tahun. Orangtua harus berhenti menjadikan akademis sebagai orientasi pendidikan.

Alhamdulillah posting saya di group tentang seminar ini disambut Ustadz Adriano Aad Rusfi dan Kader Utama Nasional Komunitas HEbAT, dengan akan memberikan pelatihan 2 hari untuk para relawan agar dapat menggerakkan orangtua dan komunitas untuk mampu mengAqilBalighkan generasi. Buku Fitrah based Education menjadi referensinya.

Sementara Bunda Dewi Utama Fayza juga mendukung program literacy keluarga dan siap melatih keluarga menghaluskan bahasanya dan kemampuan menulisnya . Bunda Dr Dewi Inong mendorong pendidikan untuk pra nikah dan sertifikasi pernikahan. Program lainnya adalah mengembalikan dan membangkitkan fitrah keayahbundaan.

Pendidikan memang sejatinya harus berbasis fitrah, bukan hanya potensi bakat namun juga terkait keimanan, seksualitas, individualitas dan sosialitas, estetika juga kedewasaan dan ketangguhan baik mental maupun fisik. Mari kita antarkan generasi peradaban dari potensi potensi fitrahnya menuju the mission of life atau peran peradaban terbaiknya dengan semulia mulia adab.

Mari kita rancangkan kehidupan yang baik (a good life) sesuai fitrah dan personalized program untuk tiap anak anak kita untuk mencapai mukalaf dan mencapai peran peradaban terbaiknya.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife
#generasiAqilBaligh

Reff:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.