Fitrah Individualitas vs Fitrah Sosialitas

Fitrah Individualitas vs Fitrah Sosialitas

Hari ini ummat mengalami krisis kepemimpinan. Pemimpin pemimpin bermunculan namun dengan mental penguasa (sulthon, raja, sultan) bukan mental orang yang mengurusi (melayani) urusan orang beriman (amirul mukminin). Justru penguasa ini bermental ingin dilayani.

Para pemimpin bermental penguasa ini umumnya rakus kekuasaan, tyrant, corrupt, membangun kerajaan pribadi dengan menyiapkan penerus alias putra mahkota, pencitraan tak wajar (riya’), narsis di ruang publik dsbnya namun yang jelas ia tidak siap menunaikan kewajiban sosialnya sebagai pemimpin, namun paling depan ketika menuntut haknya yang sebenarnya lebih sering bukan haknya.

Pemimpin seperti model yang digambarkan di atas sudah pasti tak pernah siap untuk dipimpin siapapun apalagi bersinergi, ia rela menginjak siapapun agar senantiasa di atas, ia pada dasarnya tak siap mendengar dan melayani, ia tak siap mengambil alih masalah ummat menjadi masalah personalnya, ego nya tak cukup siap untuk berempati karena tak terpuaskan ketika masa anak. Ini bukan perihal fitrah bakatnya yang mungkin dominan menguasai orang lain, namun ini tentang fitrah individualitasnya yang tak tumbuh paripurna ketika masa anak.

Fitrah individualitas adalah sifat dan potensi manusia untuk menjadi makhluk individu, berupa ego, konsep diri secara individual yang kemudian kelak menjadi self esteem, self confidence dstnya yang apabila tumbuh paripurna akan melahirkan jiwa yang siap menjadi imam (leadership) dan sekaligus siap menjadi makmum (followership).

Justru anak anak yang ketika kecil dicerabut hak individualitasnya, kelak ketika dewasa tumbuh menjadi anak yang tidak menunaikan kewajiban sosialitasnya. Bentuk fitrah individualitas yang tak tumbuh itu bisa dua hal, yaitu pertama menjadi pribadi yang sangat peragu, lamban mengambil keputusan, tidak percaya diri, konsep tentang dirinya buruk, mudah dibully dstnya.

Atau sebaliknya, yaitu menjadi sangat egois, haus pengakuan, kadang bahkan seringkali kekanak kanakan (childish), minta perhatian yang tak wajar (caper), merasa paling berjasa, sulit berkolaborasi atau bersinergi, curhat atau nampang tak bermakna di ruang publik dsbnya.

Fitrah individualitas yang tumbuh baik di usia 0-6 tahun justru akan membangkitkan fitrah sosialitas pada usia 7 tahun ke atas, saat ananda sudah mumayiz dan menyadari adanya dunia di luar dirinya.

Lalu bagaimana merawat dan menumbuhkan fitrah individualitas ini sejak masa usia dini sampai menjelang AqilBaligh agar tumbuh paripurna sehingga ananda menjadi pribadi yang siap menjadi Imam juga sekaligus siap menjadi makmum? Bagaimana peran ayah dan peran ibu dalam menumbuhkan fitrah ini untuk tiap tahapan usia?

(Bersambung)

Reff:

2 thoughts on “Fitrah Individualitas vs Fitrah Sosialitas

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.