Fitrah Individualitas dan Kemampuan Berjama’ah.

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Fitrah Individualitas dan Kemampuan Berjama’ah.

Setiap kita tahu penting dan wajibnya berjama’ah, namun tidak setiap kita siap berjama’ah dan punya kemampuan berjama’ah, karena fitrah individualitas yang tak tumbuh paripurna.

Berjama’ah bukan sekedar berkumpul atau kumpul kumpul, tetapi ada perpaduan potensi, ada sinergi yang bicara alternatif ketiga, yaitu bukan tentang pilihan saya (alternatif 1), juga bukan tentang pilihan kamu (alternatif 2), tetapi tentang pilihan kita bersama (alternatif 3).

Tentu saja untuk sampai pada alternatif ketiga itu tidak mudah, diperlukan kemampuan empati yang besar, kemampuan mengendalikan ego bahkan menurunkan ego serendahnya, keikhlashan yang alamiah dan spontan, sehingga secara kolaboratif mampu menemukan jalan alternatif ketiga yang lebih baik bagi semua. Prinsip berjama’ah adalah No one is as smart as all of us, tiada seorangpun yang lebih pandai daripada kita semua.

Kemampuan mengendalikan ego di atas hanya akan bisa dicapai oleh mereka yang fitrah individualitasnya tumbuh paripurna pada masa usia dini, yaitu mereka yang terpuaskan egonya ketika usia dini. Mereka yang sejak dini, dihargai dan diakui pilihan pilhannya walau salah, diakui keberadaannya dan sifat sifat uniknya dengan penuh syukur, tidak dipaksa berbagi ketika tidak mau berbagi, tidak dipaksa mengalah saat sedang tidak mau mengalah dstnya.

Anak anak usia dini yang tidak diberi ruang untuk memilih, banyak dipaksa mengalah, direndahkan keberadaannya dstnya akan mengalami cidera ego. Kelak ketika di atas 7 tahun akan menjadi anak yang peragu, lambat mengambil keputusan, mudah dibully, tidak percaya diri dstnya. Dalam prakteknya kadang muncul sebaliknya, menjadi anak yang justru tidak mau mengalah, merasa paling benar, egois dstnya.

Jadi kaidahnya adalah bahwa anak anak yg dicerabut masa anak anaknya kelak kita akan jumpai orang dewasa yang kekanak kanakan (childish). Anak yang terpuaskan hak individualitasnya di masa anak anak, kelak akan kita jumpai orang dewasa yang menunaikan kewajiban sosialitasnya pada masa dewasanya.

Jika hari ini kita saksikan banyak orang dewasa sulit bekerjasama, sulit berkolaborasi, tidak siap berjama’ah, merasa paling benar sendiri, sibuk menyalahkan orang lain, berebut hak tetapi menolak tanggungjawab, mengambil sebanyak banyaknya dari jamaah selagi sempat dstnya, maka itu pertanda masa anak anaknya tak bahagia, egonya tak tumbuh paripurna, fitrah individualitasnya redup.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Reff:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.