Fitrah Bakat vs Fitrah Seksualitas

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Menjadi Ayah atau menjadi Ibu itu bukan berangkat dari fitrah bakat, itu adalah fitrah gender atau fitrah seksualitas. Karenanya jangan berdalih bahwa sifat bakat kita tidak mencerminkan sifat sifat perempuan, lalu kita mengatakan tidak berbakat menjadi Ibu, atau sebaliknya jika bakat kita tidak mewakili sifat sifat seorang lelaki, lalu kita mengatakan tidak berbakat menjadi ayah.

Bakat atau fitrah bakat adalah sifat sifat manusia terkait keunikan atau keistimewaan dalam berinteraksi dengan peran di masyarakat pada peran profesi atau pekerjaan professional. Sementara fitrah seksualitas adalah sifat sifat manusia terkait keunikan atau keistimewaan dalam berinteraksi dengan peran di masyarakat pada peran keayahan dan keibuan.

Ketahuilah bahwa andai fitrah bakat kita tidak mencerminkan sifat sifat seksualitas kita bukan berarti boleh menolak menjadi diri kita sesuai seksualitasnya. Misalnya jika anda seorang perempuan, punya sifat bakat seperti suka banget memerintah, sementara suka empati nya lemah, suka pedulinya lemah, suka merawat juga lemah dsbnya bukan berarti anda boleh mengatakan bahwa saya tidak berbakat menjadi seorang ibu.

Jadi jangan benturkan antara fitrah bakat dan fitrah seksualitas. Kalau ada fitrah bakat yg tak mendukung fitrah seksualitas femininitas atau peran keibuan kita lalu jangan katakan saya tak berbakat jadi ibu, tetapi kuatkan fitrah keibuan kita dan gunakan fitrah bakat hanya pd profesi semata. Begitupula untuk para ayah.

Lalu jangan pula mengatakan bahwa peran menjadi ibu atau menjadi ayah itu untuk memenuhi akhlak, bukan demikian karena akhlak terkait fitrah peran (bakat atau seksualitas) justru buah dari fitrah atau sifat alami yang tumbuh paripurna bukan nilai nilai yang ditanamkan kemudian.

Menolak berperan menjadi Ibu itu terjadi karena fitrah seksualitasnya tidak tumbuh paripurna, sehingga tidak menjadi adab atau akhlak bagi anak dan suaminya. Begitupula menolak atau keberatan menjadi ayah, itu kaitannya bukan karena ada sifat sifat terkait bakat yang tidak mencerminkan kelelakian, tetapi karena fitrah kelelakiannya tak tumbuh paripurna.

Maka pendidikan harus dipahami sebagai upaya menumbuhkan semua aspek fitrah, bukan hanya fitrah bakat, juga fitrah seksualitas, juga fitrah fitrah lainnya.

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasisfitrah
#fitrahbasededucation

Reff:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.