Designing “Youth” Life based on Fitrah

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Designing “Youth” Life based on Fitrah

Seorang ibu usia 50an, nampak seperti seorang wanita pengusaha, datang kepada saya, ia membawa dua orang anaknya untuk mendiskusikan masa depan kedua anaknya. Mungkin pembaca menduga kedua anaknya itu masih kecil, hmmm… kedua anaknya itu sudah selesai S2 dari PTN usianya 26 dan 28 tahun.

Tadinya saya juga menduga ibu ini ingin mendiskusikan hal lain, ternyata beliau ingin meminta masukan untuk kedua anaknya. Apa masalahnya? Kedua anaknya ini, menurut ibunya, sejak kecil cerdas, selalu juara kelas. Namun kini walau sudah S2, selalu galau dengan dirinya.

Ibu ini menuturkan perihal kedua anaknya. “Anak saya ini, jika bekerja di perusahaan manapun selalu “tak betahan” sehingga selalu tak bertahan lama. Selalu merasa tak nyaman, merasa bukan passionnya, namun jika ditanya passionnya apa, susah memaparkannya”

“Saya ini pengusaha restoran pak Harry, saya merasa cukup sukses mengelolanya, saya bahkan punya restoran juga di Mekkah. Pernah saya buatkan restoran untuk anak saya. Ternyata baru setahun bangkrut”, tutur ibu itu. Kini ia nampak mulai emosional.

“Masalah lainnya, anak saya ini, sampai sekarang belum mau menikah. Mereka bilang belum mapan dan belum berhasil. Tapi sampai kapan, saya sudah pingin banget punya cucu”, lanjut ibu itu. Kini matanya mulai basah.


Teman AyahBunda yang baik,

Barangkali kita pernah menemukan atau mendengar kasus serupa di sekitar kita, barangkali juga terjadi pada diri kita dan pasangan kita. Sesungguhnya hal ini tak perlu terjadi jika para orangtua terlibat penuh dalam mendidik bukan sekedar menyerahkan pada sekolah.

Pendidikan itu bukan tentang mensarjanakan anak atau menghafizhkan anak, tetapi pendidikan sesungguhnya adalah mengantarkan generasi peradaban (jailul hadhoriyah) atau anak dan pemuda kita kepada peran peradaban (daurul hadhoriyah) atau the mission of life.

Sistem persekolahan modern umumnya hanya mencetak anak kita menjadi human thinking and human doing, bukan human being (insan kamil), manusia Robbani yang ajeg menjadi dirinya seutuhnya dengan misi hidupnya yang berorientasi ke langit dgn menebar manfaat besar di dunia dengan misi hidupnya itu bukan berorientasi bumi yang mengambil sebanyak banyaknya materi dunia.

Rancangkan Hidup Anak dan Pemuda Kita

Saya banyak menemukan kasus anak dan pemuda yg tak pernah dirancangkan hidupnya sesuai fitrahnya (setidaknya bakatnya) shg ujung2nya tak punya misi hidup yg ajeg, hanya berorientasi belajar menguasai ilmu (umum dan agama) sebanyak2nya agar sukses mencari pekerjaan dan agar bisa hidup kaya.

Jadi sebaiknya setiap anak kita harus dipetakan dan diprofiling seluruh aspek fitrahnya (bukan hanya bakat). Kemudian digali needs n insight nya dan dirancangkan hidupnya sesuai profile fitrah (life design based on fitrah) dan diarahkan the mission of lifenya dari skala paling sederhana.

Anak dan pemuda yang sudah menemukan roadmap hidupnya atas seluruh aspek fitrahnya akan disibukkan oleh kebenaran dan kebaikan. Kita sering mengecam kelalaian anak abg dan pemuda kita, mengkhawatirkannya salah gaul, dll padahal kita tak pernah memetakan fitrahnya dan merancangkan masa depannya sampai kepada program detail lalu membersamainya mewujudkannya.

Saya pernah menulis tentang pemetaan fitrah sbb

  1. Anak sekolah atau tidak, hs atau unschooling atau friendscholing (magang sama temen) dll, kurikulum personal harus dibuat. Karena sekolah sebatas pengajaran akademis dan sedikit keterampilan, sementara fitrah termasuk bakat juga adab (hikmah kehidupan) itu perlu diprogram dan kewajiban oramgtua

  2. Jika ananda masih balita, maka prosesnya bisa diamati sampai mendapat polanya seceparnya usia 7 dan selambatnya usia 10.

Masalahnya banyak anak keburu gede di atas 7 bahkan di atas 10 tahun cuma berisi akademis saja kepalanya, maka disinilah perlu pemetaan baik assessment maupun observasi kegiatan pada semester pendek sebelum dirancangkan program hidupnya

Catatan

Pemetaan bagi anak yg sdh di atas 7 atau di atas 10 itu ada 3
1. Assessment questioner, bisa didampingi
2. Observasi via Interview
3. Observasi via kegiatan dalam semester pendek

Di banyak kampus utk mahasiswa baru, di perusahaan utk rekrutmen dan utk pensiun, umumnya di LN, menjadi penting utk merancangkan hidup ke depan dan misi hidup. Ini biasanya hanya terkait talents tetapi seharusnya juga terkait health, relationship, love, social engagement dll (seluruh aspek fitrah) kemudian didraftkan the purpose of life nya atau the mission of life nya.

Nah, mari rancangkan hidup anak anak kita, bantu juga buatkan misi hidupnya, selambatnya begitu masuk usia 10-12 tahun, jangan sampai anak kita keburu galau bahkan sampai S2 masih galau seperti kasus di atas.

Salam Pendidkan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Reff:

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.