Berhentilah menjadi operator peradaban usang yang melihat manusia dari sisi kegelapannya atau kelemahannya

Bismillah.. semoga postingan kali ini disertai rahmat dan berkah Allah SWT.
Reff Mubaligh: Harry Santosa.

Pasca WWII, dunia dilanda mental illness, semua hal dibangun dengan cara pandang “weakness based” termasuk psikologi dan pendidikan. Dalam bahasa gaulnya, orang modern itu “senang lihat orang lain susah dan susah lihat orang lain senang”. Ini barangkali ciri khas mereka yang lahir seputar paska kemerdekaan dan setelahnya. Bukan hanya di indonesia, tetapi juga di LN.

Riset sederhana tahun 70an membuktikan para orangtua di Amerika dan Eropa umumnya lebih suka mempermasalahkan nilai akademis yang rendah dari anaknya daripada potensi kekuatan anak anaknya yang lain baik akademis ataupun non akademis.

Namun jika hari ini sistem pendidikan masih fokus melihat siswa dari apa yang menjadi kelemahannya dengan mematok standar nilai, lalu fokus memperbaiki, menambal, merecovery “gap kelemahannya” agar sesuai standar yang ditetapkan, maka itu mengkhianati keunikan manusia dan itu jelas kebodohan yang tak terampunkan.

Manusia bukan robot atau mesin yang bisa dicetak dan diproduksi seragam lalu dijuruskan sesuai pekerjaan yang tersedia. Manusia harus diantarkan pada takdir peran peradabannya sesuai potensi cahaya fitrahnya.

Jika hari ini sistem pendidikan masih berfikir menambah jam pelajaran dan jam pengajaran sebanyak banyaknya agar siswa semakin hebat, tanpa melihat relevansi pengetahuan yang diajarkan dengan kebutuhan perkembangan dan potensi keunikan anak didik, itu pertanda bahwa pembuat kebijakannya tidak memahami fitrah manusia atau mengalami sakit jiwa alias mental ilness.

Jika hari ini ada yang mengukur kecerdasan majemuk anak, lalu menggunakannya agar dapat menjejalkannya dengan akademis sesuai tipe kecerdasannya itu sebanyaknya, tanpa mengganti obyek belajarnya sesuai potensi anak maka itu sama dengan manipulasi kecerdasan untuk kepentingan pembuat kurikulum akademis.

Hari ini dunia bisnis juga dikejutkan oleh kenyataan bahwa banyak anak anak muda yang kini sukses dalam bisnis, ternyata dulu mereka sering dianggap lemah secara akademis, pindah pindah perusahaan, tidak berkinerja baik di perusahaan sebelumnya dstnya.

Anak anak muda sukses ini sesungguhnya sukses karena menemukan tempat dimana cahaya mereka berpendar indah, di masa lalu sesungguhnya hanya memerlukan kesempatan untuk menghebatkan potensi keunikanmya.

Berhentilah menjadi operator peradaban usang yang melihat manusia dari sisi kegelapannya atau kelemahannya. Sesungguhnya kita menuju dunia masa depan dimana manusia dilihat dan dikembangkan seusai potensi cahaya fitrahnya, agar cahaya itu semakin terang dan menyinari peradaban sehingga menjadi lebih indah, lebih adil, lebih beradab dan lebih damai.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Reff:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.